Pakar ITB: Dialog dengan Masyarakat Kunci Keberhasilan Penanganan Gempa Cianjur

photo author
Mia Nurmiarani, Kabar Alam
- Senin, 26 Desember 2022 | 21:56 WIB
Profil kerusakan bagunan sekolah di Cianjur (Dok. FITB ITB)
Profil kerusakan bagunan sekolah di Cianjur (Dok. FITB ITB)

KABAR ALAM - Dekan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung (FITB ITB), Dr. Irwan Meilano, S.T, M.Sc., mengatakan pentingnya berkomunikasi dengan masyarakat korban gempa bumi Cianjur 21 November 2022 yang lalu.

“Itu penting sekali karena otoritas itu akan berusaha untuk mengupayakan yang terbaik dalam persepsi mereka ya. Tetapi jangan sampai kemudian ini niat baik ini tidak dipahami bersama, kemudian berpotensi menjadi persoalan sosial di masyarakat,” kata Dr. Irwan.

Ia menyampaikan bahwa memperhatikan keinginan masyarakat itu mutlak dilakukan. Ia kemudian berkata, jika melihat referensi dari negara lain, lokasi terdampak bencana dibuat menjadi zona hijau dan dibuat rumah susun.

Baca Juga: IA ITB Siap Bangun Hunian Sementara untuk Korban Gempa Cianjur

Namun, rumah susun itu bukan budaya masyarakat Indonesia, apalagi yang bermukim di pedesaan seperti Cugenang - Cianjur, yang merupakan daerah pertanian.

“Di kita itu memiliki bidang tanah itu penting sekali gitu. Pada saat Gempa bumi Sichuan 2008 itu kan begitu. Itu kan banyak sekali korbannya, akhirnya masyarakat direlokasi ke lokasi yang dianggap sangat aman terus dibikin rumah, kebanyakan berupa rumah susun,” beber Dr. Irwan pakar gempa Institut Teknologi Bandung dalam kesempatan wawancara langsung Tim Kabaralam.com pada 21 Desember 2022 di Cianjur.

Baca Juga: Gercep! IA ITB Bergerak Berikan Bantuan Kemanusiaan dan Buka Posko Peduli Gempa Cianjur  

Profil kerusakan bagunan sekolah di Cianjur
Profil kerusakan bagunan sekolah di Cianjur (Dok. FITB ITB)

"Akhirnya pilihan rumah susun akan efisien karena lahan yang diperlukan untuk relokasi tidak banyak, dianggap nyaman dan aman. Tetapi hal tersebut tidak mewakili budaya kita di pedesaan, yang memerlukan untuk bersentuhan dengan tanah, merasakan air pertanian dll, sehingga model rumah susun di Sinchuan, mungkin tidak cocok diterapkan di untuk pedesaan di Cianjur, atau perlu pengkajian mendalam sebelum diterapkan,” tambahnya.

Untuk itu, Dr Irwan merekomendasikan untuk membangun kembali sesuai dengan kultur budaya yang dianut masyarakat. Jangan sampai tercerabut dari budayanya sendiri.

Tetapi berusaha dibangun dengan lebih baik, mengadopsi bangunan tahan gempa, tanpa melupakan budaya setempat.

Baca Juga: Reuni 25 Tahun IA ITB Syner97, Silaturahmi dan Peduli : Bantu Korban Gempa Cianjur, Bangun Rumah Bambu Plester

“Itu tantangan kita bersama, dan pemerintah di daerah, saya yakin telah memiliki visi masa depan untuk Cianjur yang baik, tapi di lain pihak pemerintah harus bersedia mendengar kultur yang berkembang di masyarakat, dan kemudian mengambil keputusan terbaik,” ungkapnya.

Dikatakan Dr. Irwan, ia yakin jika Pemerintah Pusat ingin memberikan yang terbaik untuk menangani persoalan ini. Untuk itu, menurutnya dialog antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan masyarakat yang terdampak bencana gempa bumi menjadi penting, untuk memahami persepsi masing-masing.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mia Nurmiarani

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X