KABAR ALAM - Pakar gempa Institut Teknologi Bandung, Dr. Irwan Meilano, S.T, M.Sc., berpendapat mengenai topik relokasi akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,6 yang melanda Cianjur pada 21 November 2022 yang lalu.
Menurutnya, berdasarkan literatur, gempa bumi Cianjur dari sisi angka tidak terlalu besar hanya M5,6 , jika dibandingkan dengan beberapa kejadian bencana gempa bumi yang terjadi di berbagai negara.
“Sebetulnya karena kecil itu justru kita kesulitan mendeteksi dimana bidangnya. Kalau besar seperti di Palu 7,2 hingga 7,4, itu langsung kelihatan sesarnya ada dimana,” ungkap Dr. Irwan.
Baca Juga: IA ITB Siap Bangun Hunian Sementara untuk Korban Gempa Cianjur
Dr. Irwan yang juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung (FITB ITB) mengatakan bahwa untuk memastikan keberadaan lokasi sesar Cugenang dibalik penyebab gempa bumi Cianjur, perlu pendalaman dan riset lebih lanjut.
Dikatakan Dr. Irwan, dengan kekuatan magnitudo 5,6 itu, ia menyarankan segera dibangun hunian tetap, dengan kondisi bangunan yang lebih tahan gempa. Dengan melalui transisi ke hunian sementara (huntara) yang singkat. Atau pembanungan hunian sementara (huntara) dilakukan dalam satu desain dengan hunian tetap (huntap). Huntara bisa dibangun cepat dengan desain menuju huntap.
“Tim kita yang sedang bekerja kita fokus riset di bangunan sekolahan. Apakah kerusakan sekolah itu karena robekan. Kalau memang karena tanahnya robek, kita sebut sebagai surface rupture itu harus masuk ke avoid zone,” ujarnya.
Baca Juga: Satgas IA ITB Berikan Bantuan Obat-obatan dan Alkes ke RSUD Cimacan, Kabupaten Cianjur
Menurutnya, ia setuju jika penyebabnya karena surface rupture, sebaiknya dilakukan relokasi dan menghindari pembangunan kembali di wilayah tersebut.
“Namun ternyata setelah dilakukan survei, ditemukan fakta di lokasi, menurut ahli struktur bangunan ITB, yang ke lapangan bersama kami, kerusakan kebanyakan karena karena kualitas struktur, kualitas detailing. Jadi bukan karena robekan tanah. Pertanyaannya apakah di lokasi yang sama atau dipindahkan?,” ungkap Dr. Irwan.
Ia menjelaskan, kalaupun harus ada area di lokasi gempa yang dikosongkan, koridornya harus sangat kecil. Mungkin hanya beberapa meter saja.
Baca Juga: Aksi Tanggap IA ITB : Berikan Bantuan untuk Korban Gempa Cianjur
Apa yang dilakukan tim Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) dalam menangani gempa di Palu, dilakukan pembangunan kembali dengan jarak hanya 15-20 meter sisi kiri – kanan untuk gempa magnitudo 7. Sedangkan gempa Cianjur ini hanya magnitudo 5,6 . Jadi harusnya ini bisa dilakukan dengan jarak 10-15 meter kiri dan kanan,” jelasnya.
Dr Irwan membeberkan, kemungkinan ada modifikasi pembangunan rumah penyintas gempa dari kondisi sebelumnya. Ia berharap proses pembangunan hunian tetap segera dilakukan, setelah dipastikan zonasi keamanannya oleh pihak yang berwenang.
“Saya merekomendasikan untuk skala bencana seperti di Cianjur itu langsung hunian tetap (huntap), atau melalui huntap dengan jangka waktu pendek. Sehingga huntara merupakan bagian desain dari huntap. Karena berkaca pada beberapa bencana yang skalanya lebih besar misalnya di Lombok 2018, Palu 2018, ataupun Mamuju, Majene,” ungkap Dr. Irwan.
Baca Juga: Sekolah Farmasi dan LPPM ITB Pastikan Bantuan Bencana Cianjur Berkelanjutan
Selain itu, kata dia, pembangunan huntara yang lama akan men-delay proses bagi masyarakat untuk memulai kehidupan yang normal, dan memakan biaya yang besar. Namun dalam hal ini Dr. Irwan menyerahkan keputusannya kepada otoritas yang berwenang.
Dikatakan Dr. Irwan, untuk kasus gempa di Palu yang memakan ribuan korban tidak ada pilihan lain solusinya adalah relokasi, terutama yang terdampak likuifaksi. Namun untuk kasus gempa di Cianjur, menurutnya dengan skala bencana seperti ini, sebaiknya langsung dibangun hunian tetap, atau bisa huntara yang bisa dimodifikasi desainnya menjadi huntap.
“Saya sarankan untuk langsung ke hunian tetap, atau huntara singkat, yang bisa diubah menjadi huntap, lebih berat di awal tapi kemudian setelah itu lebih nyaman buat masyarakat,” terangnya.***
Artikel Terkait
Reuni 25 Tahun IA ITB Syner97, Silaturahmi dan Peduli : Bantu Korban Gempa Cianjur, Bangun Rumah Bambu Plester
Korban Gempa Bumi di Cugenang Cianjur Takkan Dapat Bantuan Renovasi Rumah, Begini Penjelasan Ridwan Kamil
BMKG: Gempa Cianjur Dipicu oleh Pergeseran Sesar Baru Patahan Cugenang
IA ITB Siap Bangun Hunian Sementara untuk Korban Gempa Cianjur
Pakar ITB Ungkap Keberadaan Sesar Cugenang di Balik Gempa Bumi Cianjur