Yang kedua adalah didiagnosis gangguan ginjal akut yang belum diketahui etiologinya, baik pre-renal, renal, maupun post-renal oleh dokter penanggung jawab pasien.
Yang ketiga adalah tidak mengalami kelainan ginjal sebelumnya atau penyakit ginjal kronik, dan yang ke empat adalah didapatkan tanda hiper inflamasi dan hiper koagulasi.
Sementara itu menurut Reza, pendekatan klinis untuk menganalisa gangguan ginjal akut ini dapat bervariasi, sesuai dengan etiologi GnGA, yaitu prorenal (fungsional), renal (struktural) dan pasca-renal. Peningkatan kreatinin umumnya teriadi 48-72 Jam setelah teriadinya cedera.
“Nah ini kalau kita lihat penyebab gagal ginjal akut tadi bisa prerenal, misalnya anak-anak dengan kondisi diare, kemudian kekurangan cairan tidak diatasi dengan baik sampai shocked ya ini juga bisa menyebabkan gangguan ginjal akut,” ungkap dr Reza.
Baca Juga: Road to HCPSN 2022: Ini Link Twibbon Ucapan untuk Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 2022
“Kemudian bisa juga di sini kalau ada obat-obatan tertentu, misalnya atau zat-zat tertentu yang bersifat nefrotoksin atau beracun untuk ginjal, juga bisa menyebabkan gangguan ginjal akut atau tadi. Kalau ada sumbatan misalnya kristal dan batu, itu juga bisa menyebabkan gangguan gejala akut yang prorenal tadi,” tambah dr Reza.
Menurut data yang dilaporkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), jumlah kasus gagal ginjal akut progresif atipikal mencapai 269 kasus per tanggal 26 Oktober 2022. Angka kematiannya juga meningkat, yaitu mencapai 157 anak yang diitemukan berasal dari 27 provinsi. Tercatat, DKI Jakarta dengan jumlah terbanyak dengan 57 kasus, diikuti Jawa Barat dengan 36 kasus, Aceh 30 kasus, Jawa Timur 25 kasus, dan Sumatera Barat 19 kasus.
Baca Juga: Road to HCPSN 2022: Ini Link Twibbon Ucapan untuk Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 2022
Pertanggal 26 Oktober 2022, hanya 3 kasus baru yang ditemukan. Seperti yang dilaporkan Kemenkes RI pada situs resminya, sejak diterapkan kebijakan penghentian sementara penggunaan obat sirup pada anak, ada kecenderungan tidak ada penambahan kasus gangguan ginjal akut yang tinggi.
“Nah kalau disini, saya berbicara sedikit yang mengenai bagaimana sih alur pikirnya untuk gangguan gejala akut. Menemukan pas sejak Januari 2022 ini, ada kita temukan kasus-kasus anak dengan gangguan ginjal. Tapi setelah kita cari penyebab-penyebabnya yang lain, ya baik dari kondisi prerenal, renal maupun pascarenal kok nggak sesuai gitu ya,” ungkap Reza yang juga populer dengan panggian dr Reva.
Dikatakan Reza, puncaknya pada bulan Agustus terjadi peningkatan kasus GnGA dan dilaporkan ke dinas kesehatan serta kemenkes. Ditambah lagi, temuan terkait progresivitasnya yang begitu cepat. Ditemukan perbedaan penyebab yang tidak lazim yang ada pada kasus tersebut.
Baca Juga: Kenali Gejala Gagal Ginjal Akut Demi Penanganan Sedini Mungkin
“Progresivitas itu cepat, artinya perburukan itu cepat terjadi gitu. Karena, biasanya anak-anak dengan gangguan ginjal akut itu, dengan terapi kita berupa terapi hemodialisis itu cepat perbaikannya. Biasanya seperti itu, tapi kalau yang ini, kenapa cepet banget perburukannya gitu, dan respon kurang baik dengan terapi-terapi yang kita berikan. Nah, makanya akhirnya dilaporkan di situlah mulai berpikir apa sih penyebabnya untuk gangguan ginjal akut ini,” tutur Reza.
Apa itu Multisystem Inflammatory System in Children (MIS-C)?
Artikel Terkait
Bertambah 18, Kemenkes Tegaskan Penambahan Kasus Baru Gagal Ginjal Akut pada Anak Cuma 3 Orang
Update Gagal Ginjal Akut pada Anak, Kemenkes Tegaskan Jangan Dulu Pakai Obat Sirop
Webinar Prokami : Jadikan EG dan DEG sebagai Penyebab Gagal Ginjal Akut Terlalu Prematur
Kasus Gagal Ginjal Akut Merebak, BPOM Akui Hadapi Hambatan Pengawasan Impor Zat Pelarut
Penanganan Gagal Ginjal Akut, Legislator Ultimatum Kemenkes dan BPOM
Polri Sudah Perintahkan Polda Seluruh Indonesia Kumpulkan Sampel Penderita Gagal Ginjal Akut
Kenali Gejala Gagal Ginjal Akut Demi Penanganan Sedini Mungkin