Penanganan Gagal Ginjal Akut, Legislator Ultimatum Kemenkes dan BPOM

photo author
Endan Suhendra, Kabar Alam
- Sabtu, 29 Oktober 2022 | 14:38 WIB
Wakil Ketua DPR RI Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Korkesra) Abdul Muhaimin Iskandar (dpr.go.id)
Wakil Ketua DPR RI Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Korkesra) Abdul Muhaimin Iskandar (dpr.go.id)

KABAR ALAM - Wakil Ketua DPR RI Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Korkesra) Abdul Muhaimin Iskandar menegaskan, kasus melonjaknya angka pasien gagal ginjal akut pada anak di Indonesia adalah keadaan darurat.

Karena itu, Gus Muhaimin menegaskan, penanganan gagal ginjal akut pada anak pun harus dilakukan secara cepat, cermat, dan tepat.

“Karena itu, selain saya mengapresiasi langkah cepat tapi saya benar-benar menganggap ini tindakan emergency yang harus dilakukan secara sungguh-sungguh. Serius, tidak terhitung hari, tapi detik dan jam yang harus dilakukan (penanganan). Ultimatum ini sangat keras dari DPR agar segera diambil langkah-langkah tepat,” tegasnya seprti dikutip KABARALAM.com dari laman resmi DPR RI, Sabtu 29 Oktober 2022.

Baca Juga: Road to HCPSN 2022: Getting to know the Javan Eagle, the Rare Ultimate Predator Animal of Fellow Birds and Sma

Gus Muhaimin juga meminta penanganan pasien yang telah terkonfirmasi gagal ginjal akut agar ditangani secara intensif. Menurutnya harus ada penanganan khusus bagi GGA dengan alokasi anggaran darurat.

Sebelumnya, ia mengapresiasi langkah cepat BPOM dan Kementerian Kesehatan terkait penanganan obat-obat yang dianggap mengandung zat berbahaya dan memicu gangguan ginjal akut (GGA)/Acute Kidney Injury (AKI) pada anak.

Meski begitu, ia pun mengeluarkan ultimatum kepada dua instansi tersebut untuk segera menyelesaikan masalah ini.

Baca Juga: Pemkot Bandung dan ITB Kolaborasi Optimalkan Penanganan Sampah

“Saya mengapresiasi langkah cepat BPOM maupun Kemenkes untuk mengatasi dengan segera obat-obat yang mengkhawatirkan dan membahayakan balita, dan ini tidak cukup dengan hanya melarang kemudian memberikan rekomendasi ataupun surat izin kepada yang sudah masuk, tetapi ini harus ada pengawasan ketat semua pihak," katanya.

"Ini soal generasi kita, ini soal anak kita, ini soal anak-anak dan cucu-cucu keturunan kita,” tambahnya.

Gus Muhaimin sempat mengungkapkan kekecewaannya lantaran rendahnya pengawasan BPOM, sehingga obat-obatan yang disinyalir tercemar etilen glikol dan dietilen glikol bisa beredar di masyarakat. Dua zat tersebut digadang memicu melonjaknya angka GGA pada anak yang juga terjadi di Gambia.

Baca Juga: Kasus Gagal Ginjal Akut Merebak, BPOM Akui Hadapi Hambatan Pengawasan Impor Zat Pelarut

“Ini soal anak-anak dan cucu-cucu keturunan kita. Ini sangat sangat membutuhkan perhatian serius, dan DPR memberi ultimatum betul kepada Menteri Kesehatan, kepada BPOM untuk sungguh-sungguh betul mengawasi keadaan ini. Bayangkan anak-anak kita, bayangkan anak keturunan kita mengalami nasib yang berat gara-gara pengawasan BPOM yang rendah atau Kemenkes yang tidak mengambil respon cepat,” ujar legislator daerah pemilihan Jawa Timur VIII itu.***

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Endan Suhendra

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X