KABAR ALAM - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) RI kembali menegaskan permintaannya kepada masyarakat agar jangan dulu menggunakan obat sirop kepada anak yang sakit sebagai antisipasi pencegahan penyakit gagal ginjal akut.
Permintaan tersebut disampaikan Juru Bicara Kemenkes RI, dr. Mohammad Syahril saat meng-update perkembangan kasus gagal ginjal akut di Indonesia, Kamis, 27 Oktober 2022.
Dikataknnya, selain upaya antisipatif dari pemerintah, masyarakat dapat berpartisipasi penuh untuk mengantisipasi gagal ginjal akut pada anak dengan selalu waspada dan untuk sementara waktu tidak memberikan obat dalam bentuk cair/sirop kepada anak.
Baca Juga: Ini Ajakan Menkes kepada Remaja Putri untuk Pencegahan Anemia dan Stunting Sejak Dini
Dalam kesempatan itu, Syahril juga menekankan, dukungan seluruh pihak sangat menentukan keberhasilan penanganan gagal ginjal akut di Indonesia.
"Diharapkan semua pihak untuk dapat bersinergi dan berkolaborasi untuk menyelamatkan nyawa anak Indonesia sebagai prioritas utama. Tujuan kita adalah demi kesehatan masa depan anak anak kita," kata Syahril seperti dikutip KABARALAM.com dari siaran Kemenkes RI, Jumat, 28 Oktober 2022.
Dikatakan Syahril, kebijakan antisipatif masih dan terus dilaksanakan Kemenkes untuk menekan angka kesakitan dan Kematian akibat gagal ginjal akut.
Baca Juga: Bertambah 18, Kemenkes Tegaskan Penambahan Kasus Baru Gagal Ginjal Akut pada Anak Cuma 3 Orang
Dari sisi tracing, sejak Agustus lalu, Kemenkes bersama seluruh dinkes dan rumah sakit melakukan surveilans untuk mendata laporan kasus gagal ginjal akut di daerah untuk mempercepat penanganan.
Kegiatan surveilans ditindaklanjuti dengan pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan intoksikasi kemungkinan zat toksik, untuk mengetahui penyebab pasti kasus gagal ginjal akut.
Dari sisi terapeutik, sebagai langkah awal Kemenkes RI telah mendatangkan 30 vial Antidotum Fomepizole dari Singapura yang akan datang secara bertahap.
Baca Juga: Top 5 Hits 27 Oktober 2022, Lima Obat Sirup Mengandung Cemaran Etilen Glikol Masih Banyak Dicari
Syahril merinci, sebanyak 20 vial sudah tiba di Indonesia pada 10 dan 18 Oktober lalu dan telah digunakan untuk pengobatan di RSCM. Hasilnya, kondisi pasien gagal ginjal mengalami perbaikan.
Selanjutnya, 10 vial lagi yang dijadwalkan tiba hari, akan didistribusikan ke RS rujukan pemerintah yang merawat pasien GGA.
Selain Singapura, Kemenkes juga mendatangkan 16 vial Antidotum Fomepizole dari Australia pada 22 Oktober lalu dan telah didistribusikan ke sejumlah rumah sakit diantaranya RS M. Djamil Padang, RS Soetomo Surabaya, RS Adam Malik medan, dan RS Zainul Abidin Aceh.
Baca Juga: Begini Arahan Menteri LHK kepada Delegasi RI untuk COP 27 Perubahan Iklim
Tak hanya itu, sebagai hasil diplomasi bilateral dengan Kanada saat Pertemuan Menteri Kesehatan Negara G20, Indonesia juga mendapatkan donasi dari Takeda berupa 200 vial Antidotum Fomepizole yang akan tiba minggu depan.
Setibanya di Indonesia, obat injeksi ini akan langsung didistribusikan ke seluruh RS pemerintah dan diberikan gratis kepada seluruh pasien.
"Obat Fomepizole sepenuhnya diberikan secara gratis kepada pasien sebagai bagian dari terapi/pengobatan," tegas Syahril.***
Artikel Terkait
Kemenkes RI Rilis Tahapan-tahapan Penanganan Gangguan Ginjal Akut, Sudah Dimulai Sejak 10 September 2022
Ramai Kasus Gagal Ginjal Akut, Ini 7 Tanda Bahaya pada Anak yang Mesti Orang Tua Ketahui
Segera Bawa ke Faskes Terdekat Jika Anak Alami Gejala Mengarah ke Gagal Ginjal Akut Seperti Ini Nih!
Ada 35 Kasus Gagal Ginjal Akut pada Anak di Jawa Barat
Bertambah 18, Kemenkes Tegaskan Penambahan Kasus Baru Gagal Ginjal Akut pada Anak Cuma 3 Orang