Strategi selanjutnya adalah sosialisasi hasil rancangan kepada para pemangku kepentingan, termasuk masyarakat dan pemerintahan. Rancangan yang telah digarap bertujuan untuk dipahami dan menumbuhkan kesadaran serta dukungan dari banyak pihak untuk merealisasikannya.
“Masyarakat menjadi pion penting dalam upaya melestarikan alam,” ungkap Dr. Yayat.
Langkah ketiga adalah aksi pasca bencana longsor yang disesuaikan dengan hasil perancangan sebelumnya. Tindakan ini harus berkelanjutkan dengan melibatkan pelbagai pihak (penta helix).
Baca Juga: Kurangi Dampak Banjir, Pemkot Bandung Resmikan Kolam Retensi Wetland Park Ciraga di Kecamatan Cibiru
Masyarakat petani penggarap nantinya yang akan menginisiasi langkah terakhir ini dalam tempo waktu yang lama.
“Perancangan harus melibatkan para ahli di bidangnya, bisa berasal dari perguruan tinggi, institusi riset atau UPT teknis yang sesuai agar dapat bekerja secara sinergis didukung oleh eksekutif, dan legislatif,” tutupnya.***
Artikel Terkait
Pakar ITB : Segera Bangun Hunian Tetap untuk Penyintas Gempa Cianjur
FITB ITB Berharap Bisa Berkontribusi dalam Penanganan Gempa Cianjur
Pakar ITB : Bangun Kolaborasi, Maksimalkan Potensi Bantuan untuk Penanganan Pasca Gempa Cianjur
Pakar ITB: Dialog dengan Masyarakat Kunci Keberhasilan Penanganan Gempa Cianjur