KABAR ALAM - Kamis, 8 Desember 2022, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (PP IA ITB) Gembong Primadjaja bersama Wakil Ketua Umum PP IA ITB Denda Alamsyah didampingi staf khusus IA ITB Abdul. Luky melakukan kunjungan ke pendopo Kabupaten Cianjur. Kunjungan silaturahmi tersebut diterima Asisten Perekonomian dan Pembangunan (ASDA) Pemerintah Kabupaten Cianjur,Budi Rahayu Toyib, di Pendopo Kabupaten Cianjur.
Tujuan utama kunjungan tersebut, selain memberikan bantuan langsung kepada para korban gempa bumi, juga untuk melakukan kordinasi dengan pihak pemerintah terkait. Disampaikan dalam kunjungan ke Kabupaten Cianjur tersebut, Ketum PP IA ITB Gembong berencana untuk memberikan bantuan kembali bagi korban bencana gempa Cianjur. Kali ini untuk mengakomodir kebutuhan jangka menengah, berupa ‘hunian sementara’ (huntara) dan aplikasi mitigasi bencana.
Dikatakan Gembong, IA ITB sudah memberikan bantuan program kedaruratan, langsung setelah bencana gempa melanda Cianjur. Kini kondisi kedaruratan sudah sedikit mereda. Namun nampaknya, pemerintah Kabupaten Cianjur mengalami beberapa kendala terkait dengan pendataan bencana. Kondisi tersebut disampaikan dan dikonfirmasi oleh ASDA II, Budi.
Baca Juga: Reuni 25 Tahun IA ITB Syner97 : Peduli Isu Lingkungan, Sumbang Motor Listrik untuk ITB
Sementara itu, dalam pesan tertulis kepada Denda, Bupati Cianjur, Herman Suherman, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada IA ITB atas bantuan yang selama ini diberikan kepada warganya.
“Siap... hatur nuhun pisan kangge keluarga besar IA ITB... mugi janten amal kasaean nu ditampi ku Alloh SWT.... Nu sangat di peryogikeun tenda rumah... supados warga tiasa wangsul ka tempat masing-masing sambil kerjabakti ngadamel bumi tahan gempa sareng TNI,” ungkap Herman dalam pesan tertulis melalui Whatsapp dalam bahasa Sunda.
“IA ITB memberikan yaitu support dengan pendataan berbentuk tiga dimensi. Ini penting, sehingga berbagai pihak, terutama stakeholder bisa tahu secara langsung dan cepat kondisi lapangan, termasuk kerusakan-kerusakan yang ada,” terang Gembong.
“Selain itu juga, untuk melihat potensi bencana lanjutan misalnya tanah yang sudah longsor masih ada potensi longsor lagi atau tidak, karena ini berbentuk 3D mapping. Jadi kita bisa analisa itu terus perhitungan jumlah korban, besaran bantuan yang perlu diberikan, termasuk proses pembangunan itu bisa cepat,” tambah Gembong.
Bantuan berupa rumah hunian sementara (huntara), berupa rumah tahan gempa untuk masyarakat, yang bisa dimanfaatkan juga untuk fasilitas umum seperti rumah ibadah.
Denda mengatakan bahwa untuk pembangunan hunian tetap (huntap) sudah ditangani oleh pihak pemerintah yakni Kementerian Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR).