KABARALAM – Negara Indonesia memiliki posisi strategis untuk menjadi pemain utama dalam rantai pasok EV global, mengingat seperempat dari cadangan nikel dunia terdapat di Indonesia, khususnya wilayah Indonesia Timur.
Nikel dapat ditemukan di berbagai wilayah, seperti Halmahera Timur di Maluku Utara, Morowali di Sulawesi Tengah, Pulau Obi di Maluku Utara, dan Pulau Gag di Kepulauan Raja Ampat. Bijih nikel laterit (limonit dan saprolit) merupakan komoditas umum di industri nikel di Indonesia. Nikel merupakan bahan utama dalam produksi baterai.
Menyadari potensi sumber daya alam yang dimiliki Indonesia, Kementerian BUMN bersama empat BUMN sektor pertambangan dan energi, yakni Holding Industri Pertambangan - MIND ID, PT Antam Tbk, PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero) telah mendirikan PT Industri Baterai Indonesia/Indonesia Battery Corporation (IBC) di kuartal pertama tahun 2021 lalu.
Baca Juga: Ini 5 Provinsi Penyumbang Terbesar PNBP dari Sektor Pemanfaatan Hasil Hutan
IBC diciptakan untuk fokus pada pengelolaan ekosistem industri baterai kendaraan bermotor listrik (Electric Vehicle Battery) yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Sehingga pemanfaatan potensi sumber daya mineral di Indonesia bisa tercapai secara maksimal.
Perkembangan industri kendaraan bermotor listrik Indonesia memperoleh kabar baik. Pasalnya, Indonesia Investment Authority (INA), lembaga sovereign wealth fund Indonesia baru saja membuat kesepakatan dengan Contemporary Amperex Technology Co., Limited (CATL) dan CMB International Corporation Limited (CMBI) di momen konferensi B20 di Bali, Senin (14/11).
Baca Juga: Antisipasi Kelangkaan Pupuk, PT Pupuk Indonesia Siap Distribusikan Pupuk Subsidi
Nota Kesepahaman yang ditandatangani terkait Green Fund sekitar USD2 miliar atau sekitar Rp29,6 triliun yang difokuskan untuk membangun rantai nilai dari hulu hingga hilir bagi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) terutama di Indonesia.
Hal ini merupakan bentuk dukungan keberlanjutan dan komitmen Indonesia mencapai target Net Zero Emission pada 2060. Green Fund akan menjadi platform khusus untuk menangkap peluang investasi dalam ekosistem EV yang sedang berkembang.
"Kekayaan nikel kita adalah modal untuk pengembangan supply chain EV battery dari hulu ke hilir. Sejak Indonesia mengambil kebijakan hilirisasi industri minerba, salah satunya fokus pengembangan industri EV battery, banyak perusahaan internasional yang ingin menjajaki kerjasama dengan Indonesia. Karena itu, keterlibatan dan kepercayaan INA, CATL dan CMBI dalam pengembangan EV battery, harus kita apresiasi," ujar Erick Thohir di Badung, Bali, Rabu (15/11).
Baca Juga: Keren! Berkat Program Kang Raling Warga Kampung Cilanjung Selaawi Garut Sudah Bisa Membuat Eco Enzym
Untuk memperkuat ekosistem yang dibangun, IBC dan ANTAM menjalin kolaborasi dengan pemain baterai global melalui penandatanganan Framework Agreement pada tanggal 14 April 2022 untuk inisiatif proyek baterai kendaraan listrik (EV battery) terintegrasi. Perkiraan total nilai investasi dari mitra global ini mencapai sebesar USD15 Miliar atau setara dengan Rp215 Triliun.
Senada dengan upaya transisi energi tersebut, Kementerian BUMN turut mendukung pengembangan EV dengan mendorong percepatan program kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (battery electric vehicle) untuk transportasi jalan di lingkungan BUMN.
Artikel Terkait
Ini Poin-poin Kesepakatan Indonesia-Amerika Serikat Soal Percepatan Transisi Energi Terbarukan
Perpres 112 Tahun 2022 Perkuat Komitmen Pemerintah Dalam Transisi Energi Menuju Net Zero Emission
Antam Paparkan Rencana Pengembangan EV Battery dan Edukasi Brankas
Perusahaan Solusi Energi Lokal dan Asia Tenggara Kolaborasi Bangun Pabrik EV Charger di Indonesia