BRIN Akan Perkuat Riset Baterai untuk Antisipasi Peningkatan Penggunaan Kendaraan Listrik

photo author
Yudi Noorahman, Kabar Alam
- Jumat, 30 September 2022 | 09:46 WIB
BRIN akan perkuat riset baterai untuk kendaraan listrik. (brin.go.id)
BRIN akan perkuat riset baterai untuk kendaraan listrik. (brin.go.id)


KABAR ALAM - Mengantisipasi peningkatan penggunaan kendaraan listrik, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberi perhatian serius pada riset pengembangan baterai.

Hal tersebut disampaikan Kepala Pusat Riset Material Maju, Wahyu Bambang Widayatno pada gelar wicara di ajang Indonesia Electric Motor Show 2022 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Rabu 28 September 2022.

Wahyu mengatakan bahwa baterai menjadi komponen utama pada kendaraan listrik.

Untuk membuat baterai yang berkualitas dibutuhkan serangkaian riset terkait dengan material, manajemen sistem, dan elektronika.

“Untuk menghasilkan sebuah baterai yang berkualitas dibutuhkan berbagai jenis material sebagai bahan penyusunnya dan berbagai bidang keilmuan,” kata Wahyu seperti dikutip dari laman brin.go.id.

BRIN melakukan riset baterai didasarkan atas peningkatan kebutuhan baterai dari tahun ke tahun yang semakin besar.

Sementara itu, keberadaan baterai nantinya tidak hanya diperuntukkan pada kendaraan bermotor listrik, melainkan dapat diaplikasikan untuk kepentingan lain, seperti berbagai peralatan elektronik yang digerakkan oleh listrik.

Baca Juga: Moeldoko Ingin Arah Riset Kendaraan Listrik Harus Fokus pada 3 Hal Ini, Apa Saja?

“Yang urgen saat ini untuk keperluan kendaraan listrik apalagi pemerintah sudah mendorong percepatan atau akselerasi pengembangan kendaraan listrik yang berbasis baterai di dalam negeri,” kata wahyu.

Kendati kendaraan bermotor listrik berbasis baterai terus meningkat dari tahun ke tahun, nyatanya konversi dari kendaraan berbasis bahan bakar minyak ke baterai tidak semulus yang diharapkan pemerintah mengingat banyak tantangan yang masih harus dihadapi.

Beberapa tantangan yang harus dicarikan solusi diantaranya harga kendaraan listrik masih dianggap relatif mahal.

“Harganya masih relatif mahal, dan ini yang menjadi salah satu consider-an masyarakat untuk beralih dari kendaraan berbasis BBM ke listrik,” lanjutnya.

Selain harga, tantangan berikutnya adalah jarak tempuh kendaraan untuk sekali pengisian daya baterai.

Jarak tempuh ini tergantung dari ketahanan dan kapasitas baterai tersebut.

Hal ini menjadi pertimbangan ketika kendaraan listrik menempuh jarak tertentu dan kapasitas baterai telah kosong sedangkan di daerah tersebut belum ada fasilitas pengisian baterai.

Baca Juga: Guru Besar Unpad: Energi Surya Jadi Solusi Alternatif di Era Kendaraan Listrik

Tantangan lainnya adalah waktu pengisian baterai yang relatif lebih lama ketimbang pengisian bahan bakar minyak.

Hal ini juga yang menjadi pertimbangan masyarakat untuk beralih ke kendaraan listrik.

“Terkait waktu pengisian, saat ini sudah dilakukan riset dalam upaya untuk mempercepat waktu charging, namun ini memang menjadi tantangan bagi dunia riset kita,” lanjut Wahyu.

Saat ini BRIN telah mengembangkan riset baterai litium guna mengantisipasi kebutuhan baterai dengan kapasitas besar dan ukuran yang relatif kecil ketimbang baterai konvensional.

Untuk mengembangkan riset baterai litium ini terdapat beberapa pertimbangan dari sisi safety dan harga.

Agar baterai litium hasil riset BRIN ini dapat diintegrasikan di kendaraan listrik, harus dikuasai teknologi kuncinya yakni desain sel baterai serta material yang digunakan dan membuat manajemen sistem dari baterai tersebut agar kompatibel dengan kendaraan listrik.

Menurutnya, harga kendaraan listrik di pasaran, secara umum 30 hingga 40 persennya adalah harga baterai.

Baca Juga: Indonesia Berkomitmen Percepat Konversi Motor Listrik

Ia berharap, di masa yang akan datang pihaknya dapat berkolaborasi dengan berbagai stakeholder baik pemerintah maupun swasta untuk terus mengembangkan teknologi baterai dengan teknologi tinggi, tetapi harga terjangkau.

Untuk membuat sebuah baterai menurut Wahyu, pihaknya membutuhkan kolaborasi dengan semua pihak, khususnya dari berbagai organisasi riset yang ada di BRIN dengan berbagai disiplin keilmuannya.

“Hal ini dilakukan mengingat dalam membuat baterai tidak hanya dibutuhkan ilmu tentang material, melainkan juga dibutuhkan kepakaran soal manajemen sistem dan elektronika,” ungkapnya.

Ia juga berharap IEMS menjadi ajang bagi pelaku industri kendaraan listrik untuk saling berkolaborasi antara pihak industri, pemerintah, dan lembaga riset guna meningkatkan kemampuan penguasaan teknologi kendaraan listrik di masa yang akan datang.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yudi Noorahman

Sumber: brin.go.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X