KABAR ALAM - Guru Besar Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik (FT) Universitas Parahyangan (Unpar), Prof. Robertus Wahyudi Triweko mengatakan, penelitian dan pengembangan pengelolaan sampah hendaknya merupakan penelitian tindakan (action research) untuk mengembangkan model terbaik di berbagai tingkatan.
Menurut Robertus, masalah persampahan bukan hanya terkait infrastruktur, melainkan juga persoalan sosial, komunikasi dan juga pendanaan.
Hal itu disampaikan Robertus saat memaparkan materi Peta Jalan Kajian Tentang Pengelolaan Sampah di Cekungan Bandung pada acara Gelar Karya Ilmiah Perguruan Tinggi dalam Pengelolaan Persampahan di Wilayah Perkotaan Cekungan Bandung di Hotel Gaia, Jalan Setiabudi, Kota Bandung, Kamis, 8 September 2022 lalu.
Baca Juga: Indonesia Jadi Penyelenggara Konferensi Internasional Konservasi Satwa Liar
Pada paparannya, Robertus menunjukkan beberapa penelitian dan kajian yang sudah dilakukan para akademisi.
“Intinya adalah penelitian sudah banyak. Tapi bagaimana sekarang kita memanfaatkan hasil penelitian ini ke dalam praktek untuk mengubah, meningkatkan, dan memperbaiki sehingga sampah di Cekungan Bandung bersih dan bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Rektor Unpar periode 2010-2015 ini.
Dikatakannya, saat ini terjadi pergeseran paradigma pengelolaan sampah perkotaan dengan konsep piramida terbalik yang merujuk pada konsep circular economy.
Baca Juga: Demi Konten di Medsos, Dua Pria di Tasikmalaya Siksa Satwa Dilindungi Hingga Mati
Melalui pendekatan baru, pengurangan sampah melalui pemilahan dilakukan di sumbernya, bahan yang bisa didaur ulang, organik di komposkan atau memanfaatkan maggot.
Disebutkan, masalah persampahan di Cekungan Bandung saat ini adalah meningkatnya volume timbulan karena pertumbuhan ekonomi dan penduduk, daur ulang masih terbatas, volume timbulan ke TPA masih besar, serta biaya pengangkutan yang mahal.
Karena itu, katanya, perlu adanya perubahan perilaku masyarakat terhadap pengelolaan sampah sejak dari sumbernya.
Baca Juga: Menteri LHK: Manggala Agni Lewati Tantangan Berat Atasi Karhutla di Indonesia
Dikatakan, dari sektor informal, pemulung sedikit banyak telah memberikan kontribusi dalam pengelolaan sampah. Peran sektor infromal dapat ikut berpengaruh cukup penting dalam pengelolaan sampah. Apalagi, jika bisa mereka dapat mengambil sampah dari sumbernya (rumah tangga).
Robertus mengusulkan 4 kebijakan yaitu pengurangan volume sampah, daur ulang sampah, pengomposan sampah dan konversi energi.
Artikel Terkait
Ini Dua Alternatif Teknologi Pengolahan Sampah Organik Rumah Tangga
Pengelolaan Sampah di Kota Bandung Belum Optimal, Peneliti ITB: Ubah Paradigma!
Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) Ke-212: Yuk, Tukar Sampah dengan Sembako!
Pemko Pekanbaru Berencana Serahkan Pengelolaan Sampah kepada Pihak Ketiga
Sampah Banyak Berserakan di Tepi Jalan, Penjabat Wali Kota Pekanbaru Tegur Dua Operator Angkutan