KABAR ALAM - Gerakan Aksi Tanggap Bencana Cianjur yang diinisiasi oleh Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung (SF ITB) kolaborasi dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ITB serta bekerjasama dengan Ikatan Alumni Farmasi (IA FA) ITB tidak terhenti di aksi bantuan pemenuhan kebutuhan harian pengungsi, seperti kebutuhan makanan, sembako, obat-obatan. Namun, gerakan ini juga menyentuh aspek sosial, yaitu pemulihan psikososial bagi para korban gempa bumi.
apt. Tomi Hendrayana, S.Si., M.Si. dari Kelompok Keahlian Farmakologi-Farmasi Klinik ITB selaku Ketua Tim Aksi Tanggap Bencana ITB mengatakan bahwa yang dilakukan tim relawan SF ITB dan LPPM ITB merupakan bentuk kepedulian ITB terhadap masyarakat sekitar.
ITB sendiri menurunkan 13 tim dengan keahlian spesifik sesuai dengan keahlian pada dosennya seperti tim penyediaan dan pengolahan air bersih, tim penyediaan shelter, tenda atau hunian sementara (huntara), tim pengelolaan limbah plastik dan sampah hingga tim yang memberi bantuan logistik, melakukan pelayanan kesehatan serta bantuan psikososial.
Baca Juga: Sekolah Farmasi dan LPPM ITB Kerahkan 13 Tim Aksi Tanggap Bencana Cianjur
Dikatakan Tomi selaku Ketua Tim Aksi Tanggap Bencana Cianjur aksi sosial ini direncanakan tidak hanya dilakukan sekali, namun berkelanjutan hingga waktu yang belum ditentukan.
“Kegiatan berikutnya berupa pemberian dukungan logistik, layanan kesehatan bekerja sama dengan UPT Layanan Kesehatan ITB serta bantuan psikososial untuk membantu memulihkan trauma khususnya pada anak-anak bekerja sama dengan mahasiswa HMF, insya Allah akan diadakan hari Sabtu, 3 Desember 2022 serta 10 Desember 2022,” terang Tomi dalam komunikasi yang disampaikan kepada tim Kabaralam.com melalui whatsapp.
Menurut Tomi, pasca gempa Cianjur, selain menyisakan kerusakan pada bangunan, ternyata ada dampak lain yang lebih serius yaitu trauma psikologis para korban gempa, terutama bagi anak-anak.
Baca Juga: Dibantu Anjing Pelacak, Tim SAR Gabungan Lanjutkan Pencarian 9 Korban Gempa Bumi Cianjur
Berdasarkan penelusuran di lokasi bencana, Tomi mengatakan, ketika tim mendatangi salah satu posko di daerah babakan karet, tim menemukan beberapa anak yang terlihat murung, bermain sendiri, dan beberapa dari mereka ada yang menangis tanpa sebab.
Menurut penjelasan Tomi, dari wawancara dengan para orang tua, katanya anak-anak ini seperti kurang sehat dan tidak seceria sebelum gempa terjadi.
Terkadang mereka, anak-anak pengungsi korban gempa bumi, tidak mau makan dan bosan karena tidak bisa beraktivitas normal. Hidup dalam kondisi darurat seperti tinggal di tenda sementara ini bukan hal yang mudah diterima. Bila malam terasa kedinginan, dan anak-anak tidak bisa sekolah atau bermain.
“Mahasiswa HMF yang tergabung dalam tim layanan kesehatan SF ITB, mencoba menghibur dan memberikan bantuan psikososial dengan melakukan permainan sederhana tetapi tetap mengedepankan unsur pendidikan yang kami sebut "fun educated game",” papar Tomi.