• Jumat, 30 September 2022

Wamen LHK: Indonesia Telah Lakukan Upaya Besar dalam Pelestarian Satwa Liar di Bumi

- Selasa, 13 September 2022 | 21:04 WIB
Wamen LHK Alue Dohong membuka acara Konferensi Internasional Konservasi Satwa Liar, di Jakarta, Selasa 13 September 2022. (ppid.menlhk.go.id)
Wamen LHK Alue Dohong membuka acara Konferensi Internasional Konservasi Satwa Liar, di Jakarta, Selasa 13 September 2022. (ppid.menlhk.go.id)


KABAR ALAM - Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Alue Dohong menegaskan, pemerintah Indonesia secara regional dan global, telah melakukan upaya besar untuk menjawab tantangan dalam melestarikan satwa liar di bumi.

Wamen LHK mengatakan hal tersebut dalam acara Konferensi Internasional Konservasi Satwa Liar di Jakarta, Selasa 13 September 2022.  

Ia juga memaparkan keberhasilan Indonesia dalam upaya konservasi satwa liar.
 
Konservasi satwa liar mengacu pada praktik dalam melakukan perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan secara lestari sesuai dengan prinsip World Conservation Strategy terhadap spesies liar dan habitatnya.

"Dengan meningkatnya risiko kepunahan spesies secara global dan dalam konteks konservasi satwa liar diambil langkah-langkah untuk membalikkan status terancam suatu spesies dan memperbaiki habitat untuk menghentikan dan membalikkan hilangnya spesies (reverse the red)," katanya dikutip dari laman ppid.menlhk.go.id.

Baca Juga: Indonesia Jadi Penyelenggara Konferensi Internasional Konservasi Satwa Liar

 Wamen LHK menjelaskan, sedikitnya terdapat 5 implementasi semangat reverse the red yang telah dilakukan Indonesia dalam konservasi spesies.

Pertama, selama pandemi COVID-19, Indonesia telah melepasliarkan 335.047 individu satwa liar dari banyak taksa ke habitat aslinya sebagai upaya untuk meningkatkan populasi dan variasi genetik di alam.
 
Kedua, melakukan penangkaran ex-situ jalak bali (Leucopsar rothschildi) dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat dan stakeholder terkait serta melakukan pelepasliaran (reintroduksi) secara masif ke alam sehingga populasi jalak bali di alam meningkat dari 15 pada tahun 2000 menjadi 452 pada tahun 2022 di Taman Nasional Bali Barat.
 
Ketiga, keberhasilan penangkaran badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) secara in situ di Suaka Badak Sumatera (SRS) Taman Nasional Way Kambas yang didirikan pada tahun 1998, dan telah menghasilkan 3 ekor anak badak.

Melalui program ini direncanakan setiap tahun akan lahir badak sumatera baru.

Baca Juga: Menteri LHK: Manggala Agni Lewati Tantangan Berat Atasi Karhutla di Indonesia
 
"Selanjutnya melakukan teknologi inseminasi buatan pada populasi satwa liar dengan memasukkan sperma dari jantan ke dalam saluran reproduksi betina dengan bantuan manusia untuk menghindari depresi genetik dari populasi yang terfragmentasi/populasi kecil seperti banteng (Bos javanicus) di Taman Nasional Baluran dan Badak Sumatera di Taman Nasional Way Kambas," bebernya.
 
Terakhir, pemantauan satwa liar menggunakan teknologi GPS Collar terhadap satwa langka gajah sumatera (Elephas maximus sumatrensis) dalam upaya mencegah adanya konflik dengan manusia, harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang dilepasliarkan ke alam bebas dan pemasangan radio telemetri pada Orangutan (Pongo pygmaeus dan Pongo abelii) untuk monitoring pascapelepasliaran di alam.
 
Ia berharap kegiatan yang dilaksanakan ini menjadi wujud tanggung jawab dalam menjaga kelestarian hutan, konservasi, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Baca Juga: Manggala Agni, Dua Dekade Menjadi Ujung Tombak Pengendali Karhutla Indonesia

"Bersama-sama, kita dapat memainkan kontribusi yang lebih berdampak untuk memastikan keberlanjutan spesies dan konservasi ekosistem. Dan kita harus siap memberikan dukungan penuh untuk memajukan tujuan ini,” kata Alue Dohong, dalam sambutannya saat membuka acara konferensi tersebut.
 
Konferensi ini bertujuan untuk menunjukkan penerapan praktik terbaik seperti upaya dan inisiatif konservasi terpadu baru, mulai dari perencanaan dan kebijakannya, hingga menjadi aksi dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk masyarakat lokal.

Acara ini juga menyoroti cara memulihkan populasi spesies yang terancam punah dan manfaat teknologi untuk mendukung konservasi satwa liar.
 
Sementara, Eva Volfová, Wakil Menteri Lingkungan Hidup Republik Ceko, Presidensi Ceko untuk Dewan Uni Eropa, mengatakan Konferensi Internasional Satwa Liar diselenggarakan dengan semangat untuk mendukung komitmen pelaksanaan Konvensi Keragaman Hayati PBB, khususnya dalam mempromosikan kerja sama internasional, regional, dan global untuk konservasi keragaman hayati dan pemanfaatan komponen-komponennya secara berkelanjutan.

Baca Juga: Diperingati Setiap Tanggal 17 September, Ini Sejarah World Cleanup Day di Indonesia

Hal ini juga sejalan dengan Post 2020 Global Biodiversity Framework dan implementasi EU Strategy for Cooperation di Indo-Pasifik.
 
“Kali ini kami mendapat kehormatan, berkat kerja sama dengan Indonesia dan dukungan dari Komisi Eropa, untuk membahas topik yang lebih detail dan tepat di kawasan yang merupakan rumah alami dari banyak spesies yang terancam punah,” ungkap Eva Volfová.
 
Konferensi internasional ini berlangsung selama tiga hari, 13-15 September 2022 dengan dua hari pertama diselenggarakan sebagai konferensi hybrid di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta.

Di hari terakhir, peserta akan melakukan kunjungan ke Taman Wisata Alam Angke Kapuk dan terlibat langsung dalam pelestarian ekosistem dengan menanam tanaman bakau.***

Editor: Yudi Noorahman

Sumber: ppid.menlhk.go.id

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X