KABAR ALAM - Penjelajahan selama 10 hari dilakukan oleh sejumlah peneliti biodiversity di pelosok Kalimantan Tengah (Kalteng).
Dari penjelajahan di Kalteng ini, sebanyak 93 koleksi spesies dari 14 family flora berhasil ditemukan tim peneliti tersebut.
“Minggu pagi di tengah agenda kerja di Jawa Timur, saya menerima laporan langsung dari pelosok wilayah Kalteng dari tim penjelajah, para peneliti biodiversity flora dan fauna dipimpin Kepala Balai KSDA Kalimantan Tengah, Sdr. Sadtata,” kata Menteri LHK, Siti Nurbaya.
Baca Juga: Jelang Bulan Oktober, Ini Update HTM ke Teras Cibulakan Kuningan
Dari penelitian ini juga, diperkirakan ada beberapa prospek, meliputi 16 spesies, yang berpotensi untuk menjadi informasi baru dalam dunia biodiversity Indonesia. Bisa saja spesies baru ini akan masuk ke dalam catatan baru atau new record.
Kemudian, 40 spesies pun diteliti dapat menjadi ornamental plant atau tumbuhan hias. Sementara itu, sisa tumbuhan lainnya masih belum teridentifikasi.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) akan melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui proses pemanfaatan tumbuhan, utamanya sebagai obat (bioprospeksi).
Baca Juga: Ini Bukti Nyata Komitmen BRI Melawan Krisis Perubahan Iklim
Dari penelitian herpetofauna yang ada juga berhasil mengidentifikasi adanya 40 spesies, 23 amfibi (6 famili) dan 14 reptil (9 famili). Beberapa spesies ini merupakan endemic Kalimantan.
Jika penelitian ini dapat dilanjutkan, maka akan ada kemungkinan new record akan kembali didapatkan dari daftar spesies herpetofauna. Penelitian lebih lanjut masih dilakukan untuk mengidentifikasi spesies fauna yang telah ditemukan.
Dari penelitian avifauna, terdapat 97 spesies (melalui identifikasi fisik dan suara) yang ditemukan dari 37 famili yang berbeda. Dua spesies yang ditemukan pada ketinggian 500 mdpl masih belum teridentifikasi secara persis.
Baca Juga: Membangun Kekompakan Melalui Outbond di Grage Resort Sangkan Kuningan
Kemudian, ada juga burung famili Nectarinidae yang berhasil ditemukan pada ketinggian 800 mdpl yang sedang diteliti lebih lanjut. Secara khsusus, upaya penelusuran keberaan badak pun dilakukan melalui telusur tanda jejak, kotoran, plintiran, serta urine.
Dari penelitian ini, belum ditemukan adanya keberadaan badak. Para peneliti hanya mengindikasikan ketersediaan pakan, sumber air, dan kubangan. Mengingat bentang alam seperti tanah batu, serasah tebal, dan lalu lintas jalur manusia, keberadaan Badak ini menjadi sulit untuk dilacak.
Artikel Terkait
The Biodiversity Enchantment of Gunung Leuser National Park
Yayasan Kehati Ungkap 6 Fakta Menarik Eksistensi Dua Spesies Badak di Indonesia
Sinergitas dan Kolaborasi Kelola Tapak dalam Upaya Konservasi Spesies dan Penanggulangan Karhutla
Mengenal Orangutan Tapanuli, Spesies Baru yang Eksistensi di Habitat Terakhirnya Semakin Terancam
Selain Kebun Raya, Potensi Biodiversity Kuningan juga Tersimpan di Kawasan Gunung Tilu