KABAR ALAM – Keanekaragaman obat tradisional Indonesia dipromosikan dalam pertemuan internasional G20 di Bali.
Harapannya, masyarakat global setidaknya negara G20 terpapar dan mengetahui berbagai manfaat tanaman obat yang telah lama digunakan oleh masyarakat Indonesia.
Beberapa tanaman obat seperti kunyit, sirih, kapulaga, jahe, centella, kelor menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung pameran.
Bertajuk Biodiversity Tradisional Medicine Indonesia, pameran berlangsung selama kegiatan 2nd Health Minister Meeting (HMM).
Pameran ini ingin mengangkat tanaman obat Indonesia yang sudah lama digunakan sebagai obat dalam bentuk simplisia, jamu dan fitofarmaka.
Baca Juga: Pemkab Purwakarta Galakkan Program Penanganan Sampah Mandiri di Setiap Desa
Pameran ini mengekspos tanaman obat yang sudah dilakukan penelitian dan terbukti berkhasiat dalam pengobatan tradisional. Diikuti oleh unit terkait di Kemenkes seperti Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK), Direktorat Jenderal (Ditjen) Farmasi dan Alat Kesehatan yang mengangkat Bude Jamu, Ditjen Kesehatan Masyarakat, Pusat Data dan Informasi serta Digital Transformation Office (Pusdatin-DTO).
Kemudian ada perusahaan jamu, BUMN, swasta dan UMKM yang bergerak dalam bidang pemanfaatan tanaman obat tradisional turut menyemarakkan acara ini.
Peserta pameran antara lain Dinas Perindustrian dan Perdagangan Bali, PT Sido Muncul, PT Indofarma, PT Biofarma dan Kimia Farma Holding Pharmacy serta Tirta Ayu Spa, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional Tawangmangu (B2P2TOOT), selain hadir dari unit Kemenkes lainnya.
Kepala B2P2TOOT, Akhmad Saikhu mengungkapkan keikutsertaan lembaganya dalam pameran ini adalah untuk mengenalkan kekayaan tanaman obat pada dunia internasional termasuk manfaatnya yang diharapkan dapat dikembangkan ke arah riset khasiat tanaman obat dan pengembangan kesehatan masyarakat.
Baca Juga: Update Tanah Longsor Majene: Satu Lajur Jalan yang Menghubungkan Mamuju-Majene Berhasil Dibuka
“Tanaman obat yang dipamerkan dari B2P2TOOT memiliki khasiat dan manfaat,” ungkap Akhmad Saikhu seperti dikutip KABAALAM.com dari laman sehatnegeriku.kemkes.go.id, Senin 31 Oktober 2022.
Akhmad Saikhu berharap agar negara-negara G20 tertarik dan ikut mengembangkan tanaman obat asli Indonesia.
Menurutnya ada tiga kelompok tanaman obat, yaitu jamu, obat herbal terstandar (scientific based herbal medicine), dan fitofarmaka (clinical based herbal medicine).
Artikel Terkait
12 Manfaat Bawang Dayak untuk Kesehatan, Dari Mencegah Diabetes Hingga Memperbaiki Fungsi Ginjal
10 Manfaat Pandan untuk Kesehatan, dari Mengurangi Risiko Kanker Hingga Mencegah Ketombe
10 Manfaat Melinjo yang Mencengangkan, Salah Satunya untuk Kesehatan Ginjal
5 Manfaat Vanili untuk Kesehatan, Si Harum yang Kaya Antioksidan dan Antibakteri