Pemkab Garut Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Selama 7 Hari di Garut Selatan

photo author
Yudi Noorahman, Kabar Alam
- Minggu, 25 September 2022 | 06:44 WIB
Setelah banjir dan longsor menerjang wilayah Garut Selatan, Pemkab Garut menetapkan status tanggap darurat bencana selama 7 hari di wilayah tersebut. (garutkab.go.id)
Setelah banjir dan longsor menerjang wilayah Garut Selatan, Pemkab Garut menetapkan status tanggap darurat bencana selama 7 hari di wilayah tersebut. (garutkab.go.id)


KABAR ALAM - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut menetapkan status tanggap darurat bencana selama 7 hari setelah terjadinya banjir bandang dan longsor di Garut Selatan pada 22 September 2022 lalu.

Saat ini jumlah kerugian akibat bencana tersebut masih dihitung dan dilanjutkan dengan penanganan pascabanjir bandang di wilayah Garut bagian selatan.

Hal tersebut dikatakan Wakil Bupati Garut, dr. Helmi Budiman saat mengunjungi posko bencana di Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Jumat 23 September 2022.

"Secara kasat mata kerugian yang diakibatkan oleh bencana banjir bandang dan longsor ini lebih dari Rp 10 miliar," ujarnya seperti dikutip dari laman garutkab.go.id.

Sementara wilayah terdampak ada lima kecamatan. Yang paling parah adalah Pameungpeuk, Cisompet, Singajaya, Banjarwangi, dan Cibalong.

Baca Juga: Update Banjir dan Longsor Garut: Seorang Warga Meninggal Dunia, Jalur Singajaya-Cihurip Terputus

Ia menambahkan, ada sekitar 1.644 rumah terdampak banjir bandang dan dua rumah hancur di Kecamatan Pameungpeuk.

Selain itu, satu rumah hancur karena longsor di Kecamatan Cisompet.

"Nah yang lainnya ada kerusakan, hanya terendam. Ada (juga) yang rusak, jumlahnya sedang diinventarisasi. Namun, diperkirakan yang rusak itu sekitar 200 sampai 400 rumah. Yang 1.200 rumah itu kemungkinan yang terendam saja," tuturnya.

Wabup Garut juga memaparkan ada beberapa jembatan yang rusak, salah satunya jembatan yang baru saja diresmikan.

"Kemudian jembatan Merah Putih dan jembatan Manglayang. Ada 3 jembatan (yang rusak), 1 di Pameungpeuk, 2 di Cibalong," katanya.

Baca Juga: Banjir dan Longsor Kabupaten Garut: Ini Lima Wilayah yang Paling Terdampak

Untuk penanggulangannya terdapat dua pilihan, yaitu relokasi dan tanggul. Namun, untuk sementara ini, Helmi menyampaikan bahwa penanganan melalui tanggul dinilai lebih rasional.

"Tanggul ini dengan beronjong. Itu mungkin pilihan yang paling rasional saat ini adalah ada beronjong, tetapi kita koordinasi nanti dengan provinsi karena sungai ini ada di bawah provinsi," lanjutnya.

Terkait dengan wisatawan yang akan berwisata ke Garut bagian selatan, Wabup Garut menyampaikan bahwa karena cuaca yang tidak menentu, nantinya jika terdapat peringatan dari BMKG, pihaknya akan langsung memberikan peringatan langsung ke masyarakat.

"Kalau yang wisata ke Santolo, Sayangheulang, pokoknya ke daerah selatan, insyaallah aman. Tetapi, kalau ada peringatan dari BMKG, kami sampaikan nanti," terangnya.

Baca Juga: Wabup Garut: Kemampuan Menolong Saat Terjadi Bencana Sangat Dibutuhkan

Terkait penanganan jangka panjang, Helmi mengatakan, harus dilakukan rehabilitasi ataupun reboisasi karena saat ini terdapat banyak lahan yang sudah tidak memiliki tegakan keras.

Pada Jumat, 23 September 2022 malam, Wabup Garut didampingi Camat Cihurip, Enjang, juga mengecek secara langsung kondisi jalur penghubung Kecamatan Cihurip dengan Kecamatan Singajaya yang terputus akibat tanah longsor yang terjadi beberapa waktu lalu.

Wabup Garut menuturkan jalan penghubung Kecamatan Singajaya dan Kecamatan Cihurip yang terputus sepanjang 35 meter.

Namun, jalur masih bisa dilewati karena sudah dibuat jalur baru di pinggir jalan yang terputus sepanjang 50 meter.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yudi Noorahman

Sumber: garutkab.go.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X