KABAR ALAM - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menegaskan, gempa bumi megathrust itu bukan prediksi, melainkan potensi.
Kendati demikian, Said Kristyawan dari Pusat Gempabumi Regional VII BMKG Yogyakarta, berharap, isu megathrust bisa memotivasi agar seluruh masyarakat untuk lebih memahami potensinya.
"Kami harap dengan munculnya isu megathrust ini bisa memotivasi kita semua, supaya bisa lebih paham akan potensinya dan tahu bagaimana mitigasi bencananya. Sehingga dampak yang terjadi bisa diminimalisir," kata Said.
Baca Juga: Gawat! Inventarisasi Ungkap Penurunan Populasi Anoa di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai
Hal itu disampaikan Said saat menjadi narasumber Sosisilisasi mitigasi gempa bumi dan megathrust ini dilakukan di Ruang Bima, Balai Kota Yogyakarta, Kamis, 10 Oktober 2024.
Dalam kesempatan itu, Said menjelaskan, berdasarkan hasil penelitian, kekuatan maksimum goncangan gempa megathrust Sesar Opak di permukaan kalau di wilayah Kota Yogyakarta berada di Kemantren Kotagede kemudian akan meluru ke arah utara.
"Kota Yogyakarta wilayahnya jauh dari garis pantai sehingga tidak berpotensi terjadi tsunami, tapi terkait potensi megathrust tetap akan terdampak dari goncangan gempa yang signifikan," katanya.
Baca Juga: Yogyakarta Mitigasi Ancaman Gempa Megathrust dan Tsunami
"Sehingga mitigasi terkait potensi bahaya harus dilakukan, oleh semua komponen masyarakat, pemerintah dan swasta," tegasnya.
Ia menegaskan hal yang harus diwaspadai adalah terkait kekuatan struktur bangunan, ketersediaan titik kumpul yang memadai, jalur evakuasi serta kemampuan mitigasi dan respon cepat ketika terjadi gempa bumi.***
Artikel Terkait
Gempa Megathrust Mengancam, Penjabat Wali Kota Bandung Keluarkan Surat Edaran
5 Hal yang Harus Dilakukan Warga Kota Bandung Dalam Mengantisipasi Gempa Megathrust
Peran Dunia Usaha dan Pendidikan dalam Mitigasi Bencana Gempa Megathrust
Mitigasi Struktural Ditingkatkan demi Kesiapsiagaan Hadapi Gempa Megathrust
Yogyakarta Mitigasi Ancaman Gempa Megathrust dan Tsunami