KABAR ALAM - Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Institut Teknologi Bandung (ITB) mengusung tema pengembangan desa wisata di Desa Geyongan, Kecamatan Arjawinagun, Kabupaten Cirebon.
Potensi utama pengembangan Desa Wisata Geyongan adalah embung buatan dengan daya tampung air mencapai 70.400 meter kubik.
Lingkungan alam di sekitar embung masih berupa hamparan persawahan dengan lanskap alami yang menampakkan Gunung Ciremai dan perbukitan Majalengka menjadi daya tarik lain Desa Wisata Geyongan.
Baca Juga: Ini 11 Langkah Operasional untuk Mitigasi Pencapaian Indonesia’s FOLU Net Sink 2030
Konsep dan realisasi desa wisata sedang menjadi salah satu alternatif pengembangan wilayah pada beberapa dekade terakhir. Hal ini terjadi karena pariwisata berbasis perdesaan cenderung lebih resisten terhadap berbagai intervensi dan disrupsi dari luar.
Laksma Satya, Ketua Kelompok 9 KKN Tematik ITB yang menangani tema Desa Wisata Geyongan menjelaskan, suasana yang menenangkan saat matahari terbit dan tenggelam merupakan daya tarik utama bagi tempat ini.
Dikatakannya, pengembangan embung akan diarahkan menjadi tempat wisata air sekaligus perikanan lokal masyarakat. Tak hanya itu, tanah titisara milik desa yang terhampar luas di sekitar embung memiliki potensi yang besar untuk dijadikan peluang agrowisata.
Baca Juga: Cacar Monyet Masuk Indonesia, Yana Mulyana: Jangan Sampai Ada di Bandung!
“Embung Geyongan sangat indah apalagi saat sore hari. Dari potensi ini, kalau mengacu dari rencana awal, embung akan difungsikan menjadi wisata air dan keramba apung. Luasnya lahan di sekitar embung juga dapat digunakan untuk tempat agrowisata,” jelasnya seperti dikutip dari laman resmi ITB.
Penanggung jawab program desa wisata, Inzagi Suhendar menjelaskan, gambaran pengembangan desa wisata yang direncanakan tertuang dalam masterplan. Berdasarkan masterplan tersebut, program pengembangan desa wisata yang telah dilakukan meliputi program fisik dan nonfisik.
Program fisik diwujudkan dengan pembangunan fasilitas penunjang desa wisata yaitu dua buah saung berukuran 3x2 meter, gapura, dan petunjuk jalan. Sedangkan program nonfisik difokuskan pada penanaman pola pikir dan penyadaran masyarakat terhadap peluang pengembangan desa wisata beserta pengelolaannya.
Baca Juga: Performa Kayu Putih di Lahan Gambut: Skema Pemberdayaan dan Restorasi
“Desa Geyongan sebenarnya sudah ada masterplan, dan kami (peserta KKN) juga ada masterplan sendiri. Jadi pengembangan akan diarahkan untuk mencapai sinergi antara masterplan desa dengan masterplan KKN berdasarkan pembangunan yang telah dilakukan, kami lakukan,” tutur Inzagi.
Rancangan awal sistem pengelolaan embung akan diserahkan kepada Karang Taruna yang bekerja sama dengan BUMDES sebagai perwakilan pemerintah desa. Elemen utama dalam pengelolaannya dibagi menjadi tiga, yaitu pemerintah desa sebagai fasilitator, swasta sebagai pemilik modal dan kolaborator, serta masyarakat umum sebagai penggerak utama.
Dalam menyiapkan skema ini, peserta KKN Tematik telah memberikan penyuluhan tentang pengembangan dan pengelolaan desa wisata kepada anggota Karang Taruna dan aparat desa.
Artikel Terkait
Digelar Ikatan Alumni Teknik Metalurgi ITB, Metconnex 2022 Kembangkan Industri Pertambangan Indonesia
Loseda, Solusi Pengelolaan Sampah Sisa Dapur yang Dikenalkan Mahasiswa ITB di Lumajang
Menikmati Wisata Sungai Berkail dan Pesta Pernikahan Suku Karo di Batu Katak Taman Nasional Gunung Leuser
Mengharukan, Rumah Amal Salman ITB Himpun Donasi Hanya untuk Kucing Kelaparan di Sekitar Masjid
Sikapi Isu Perubahan Iklim, ITB- PFAN Siap Gelar Business Coaching untuk Start up