KABAR ALAM - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terus menggelar rangkaian workshop penyusunan Rencana Kerja Indonesia’s FoLU Net Sink 2030.
Kali ini, workshop penyusunan Rencana Kerja Indonesia’s FoLU Net Sink 2030 digelar di Sulawesi Selatan.
Kegiatan workshop penyusunan Rencana Kerja Indonesia’s FoLU Net Sink 2030 merupakan langkah nyata dalam akselerasi implementasi pengendalian perubahan iklim dari tingkat tapak.
Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 adalah sebuah kondisi yang ingin dicapai melalui penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan dengan kondisi tingkat serapan sama atau lebih tinggi dari tingkat emisi.
Program ini menjadi panduan Indonesia dalam melakukan aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim serta juga merupakan bagian dari aspirasi Indonesia menuju Long-term Strategy on Low Carbon and Climate Resilience (LTS-LCCR) pada 2050.
Sekretaris Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan Dan Tata Lingkungan, Hanif Faisol Nurofiq mengungkapkan sasaran yang ingin dicapai melalui implementasi Rencana Operasional Indonesia’s FOLU Net Sink 2030.
Sasaran itu adalah tercapainya tingkat emisi gas rumah kaca sebesar -140 juta ton CO2e pada tahun 2030, mendukung net zero emission sektor kehutanan, dan guna memenuhi NDC yang menjadi kewajiban nasional Indonesia sebagai kontribusi bagi agenda perubahan iklim global, dengan memperhatikan visi Indonesia yang lebih ambisius dalam dokumen LTS-LCCR 2050.
“Dasar pijakan utama dari Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 adalah sustainable forest management atau pengelolaan hutan lestari, environmental governance atau tata kelola lingkungan, dan carbon governance atau tata kelola karbon,” kata Hanif dalam siaran pers KLHK.
Baca Juga: Hari Satwa Liar Sedunia, 3 Maret 2023: Ini 10 Hewan Paling Terancam Punah di Dunia
Hanif menyebutkan, FOLU Net Sink 2030 dapat dicapai melalui 15 aksi mitigasi yaitu pengurangan laju deforestasi lahan mineral, pengurangan laju deforestasi lahan gambut, pengurangan laju degradasi hutan lahan mineral, pengurangan laju degradasi hutan lahan gambut, pembangunan hutan tanaman, sustainable forest management, rehabilitasi dengan rotasi, rehabilitasi nonrotasi, restorasi gambut, perbaikan tata air gambut, konservasi keanekaragaman hayati, perhutanan sosial; introduksi replikasi ekosistem, ruang terbuka hijau dan ekoriparian, pengembangan dan konsolidasi hutan adat, dan pengawasan dan law enforcement dalam mendukung perlindungan dan pengamanan kawasan hutan.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan telah menyampaikan dukungan dalam upaya pencapaian target penurunan emisi gas rumah kaca.
Mewakili Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan, Kepala Bidang Daerah Alirah Sungai dan Rehabilitasi Hutan dan Lahan, Hidayat, memaparkan, pihaknya telah menetapkan kebijakan umum pembangunan kehutanan Sulawesi Selatan.
Baca Juga: Cari Kafe dan Resto yang Ada Mini Zoo-nya di Kuningan, Jawabannya Imah Amih Resto & Cafe!
Artikel Terkait
Instruksi Menteri LHK untuk Implementasi Target Indonesia FOLU Net Sink 2030 Hingga Tingkat Tapak
Implementesai FOLU Net Sink 2030, KLHK dan Temasek Foundation Jalin Kesepakatan Tekan Gas Rumah Kaca
KLHK dan WRI Jalin Kemitraan Teknis Baru untuk Dukung FOLU Net Sink 2030 Indonesia
Kantor PMO Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 Sudah Beroperasi, Ini Manfaatnya!
Partisipasi Bangka Belitung Menuju Indonesia's FOLU Net Sink 2030