Krisis Keanekaragaman Hayati Global, Antara Kehilangan dan Harapan di Borneo

photo author
Doni Romdhoni, Kabar Alam
- Sabtu, 1 Februari 2025 | 16:58 WIB
Bekantan satwa endemik Kalimnantan (tngunungpalung.com)
Bekantan satwa endemik Kalimnantan (tngunungpalung.com)

KABAR ALAM - Keanekaragaman hayati, keajaiban alam yang mencakup seluruh variasi kehidupan di Bumi, dari hewan dan tumbuhan hingga jamur dan mikroorganisme, merupakan fondasi tak tergantikan bagi keseimbangan ekosistem dan keberlangsungan hidup manusia.

Namun, aktivitas manusia yang merusak telah mendorong keanekaragaman hayati ke jurang krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Laporan Living Planet 2024 dari World Wildlife Fund (WWF) mengungkapkan, penurunan mencolok sebesar 73% populasi mamalia, ikan, burung, reptil, dan amfibi secara global sejak tahun 1970.

Baca Juga: Harga Paket dan Jadwal Open Trip ke Pulau Harapan Kepulauan Seribu Jelang Datangnya Bulan Ramadan 1446 H

Sementara itu, Laporan Global Assessment Report 2019 mencatat satu juta spesies hewan dan tumbuhan terancam punah, sebuah angka yang mencengangkan dalam sejarah manusia.

Eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, perubahan iklim yang drastis, dan polusi yang merajalela telah mengganggu keseimbangan ekosistem.

Tiga perempat lingkungan darat dan sekitar 66% lingkungan laut telah mengalami perubahan signifikan akibat ulah manusia.

Baca Juga: Top 5 Hits 31 Januari 2025, Serbuan Wisatawan ke Pulau Harapan Kepulauan Seribu Paling Banyak Mengundang Kepenasaranan

Lebih dari sepertiga daratan dunia dan hampir 75% sumber daya air tawar dialokasikan untuk produksi tanaman atau ternak. Perubahan iklim yang terus berlanjut hanya memperburuk dampak dari tekanan-tekanan ini terhadap alam dan kesejahteraan manusia.

Harapan Pulau Borneo

Borneo, pulau yang kaya akan keanekaragaman hayati, menjadi contoh nyata dari krisis ini. Pulau ini merupakan rumah bagi lebih dari 1.400 spesies hewan dan 15.000 spesies tumbuhan, termasuk spesies ikonik seperti orangutan, gajah kerdil, macan dahan, dan tanaman karnivora. Namun, eksploitasi sumber daya alam yang tak terkendali telah mengancam keberadaan mereka.

Dalam 40 tahun terakhir, 30% hutan Borneo telah hilang. Populasi orangutan Borneo yang terancam punah telah berkurang setengahnya dalam 20 tahun terakhir. Kehilangan habitat dan perburuan ilegal menjadi ancaman utama bagi spesies-spesies ini.

Baca Juga: Banjir Rob Lumpuhkan Jalur Pantura Demak-Semarang, Warga Terjebak Macet

Meskipun situasinya tampak suram, ada harapan untuk pemulihan keanekaragaman hayati. Alam memiliki kemampuan untuk pulih jika tekanan dikurangi dan sumber daya dikelola dengan bijak.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Endan Suhendra

Sumber: worldwildlife.org

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X