inovasi

Pakar ITB: Teknologi Bersih Batu Bara Punya Potensi Mengurasi Emisi Karbon

Minggu, 6 November 2022 | 18:23 WIB
Dr. Yuli Setyo Indartono Sampaikan Potensi Teknologi Bersih Batu Bara dalam Mengurasi Emisi Karbon (itb.ac.id)

KABAR ALAM - Indonesia memiliki potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) yang melimpah. Selain tenaga surya, air dan renewable energy lainnya, Indonesia juga punya potensi teknologi bersih batu bara mengurangi emisi karbon dengan sangat signifikan.

Karena itu, Kepala Pusat Penelitian Energi Baru Terbarukan ITB, Dr. Yuli Setyo Indartono menyampaikan optimismenya dalam pemanfaatan EBT.

“Kita tidak perlu meninggalkan batu bara sepenuhnya tanpa inovasi,” ujar Dr. Yuli seperti dikutip KABARALAM.com dari laman resmi ITB, Minggu, 6 November 2022.

Baca Juga: Asyiknya Refreshing di Ekowisata Mangrove Desa Pengarengan, Kab. Cirebon, Bisa Sambil Susur Sungai

Teknologi clean coal yang dimaksud Dr. Yuli adalah penghilangan flue gas dan penerapan gasifikasi.

Ia juga menjelaskan, saat hendak menghitung keekonomian sumber energi, karbon yang diemisikan masih acap kali dilupakan. Padahal, renewable energy akan mengurangi keluaran karbon dioksida, bahkan hingga mencapai karbon netral.

Potensi ini, apabila dapat dikelola secara bijak, dapat menjadi jawaban bagi permasalahan kenaikan harga bahan bakar minyak yang terus terjadi di setiap periode pemerintahan.

Baca Juga: 148.488 Hektare Telah Ditetapkan sebagai Hutan Adat

Saat faktor yang menghambat penerapan EBT di Indonesia, Dr. Yuli mengajak untuk melihat angka rata-rata penggunaan energi fosil global yang masih berada di kisaran 83%.

Menurutnya, hal ini terjadi karena teknologi batu bara, minyak bumi, dan gas alam telah lama ada sehingga teknologinya sudah matang dengan biaya yang rendah.

“Sementara untuk EBT, karena masih baru, membutuhkan investasi yang tinggi dan pengembangan-pengembangan teknologi,” lanjutnya.

Baca Juga: HCPSN 2022, Ancol Taman Impian Resmikan Wahana Jakarta Bird Land

Karena itu, perlu dukungan khusus dan insentif pemerintah untuk mendukung penggunaannya pada skala yang masif.

Dr. Yuli juga menyampaikan harapannya terhadap agenda transisi energi di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-17 G20 di Bali, 15-16 November 2020.

Halaman:

Tags

Terkini