Selain itu, fokus juga diberikan pada pengembangan teknologi pemantauan dan peringatan bahaya geologi, yang telah diimplementasikan di beberapa daerah risiko bencana geologi, seperti zona Sesar Lembang dan wilayah Selat Sunda.
Adrin menegaskan, riset dan inovasi di bidang kebencanaan geologi merupakan langkah krusial dalam memitigasi risiko bencana secara efektif.
Dengan pemahaman yang mendalam terhadap karakteristik sumber bahaya geologi dan penerapan teknologi pemantauan yang tepat, diharapkan masyarakat dapat lebih siap menghadapi ancaman bencana alam, termasuk potensi risiko di sekitar Selat Muria.
Dikataknnya, mitigasi bencana itu memerlukan pengetahuan yang komprehensif mengenai karakteristik sumber bahaya geologi.
"Riset kebencanaan geologi yang dilakukan harus dapat menghasilkan informasi ilmiah terkait karakteristik sumber bahaya geologi dan kerentanan suatu wilayah terhadap risiko bencana dan juga teknologi pemantauan sumber bahaya yang murah untuk dapat mendukung upaya mitigasi bencana geologi secara efektif,” bebernya.
Dengan demikian, penelitian dan inovasi yang terus dilakukan di Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam menjaga keamanan dan keselamatan masyarakat dari ancaman bencana alam di seluruh Indonesia.***
Artikel Terkait
Bolehkah Amati Gerhana Matahari Hibrida dengan Mata Telanjang? Begini Jawaban Peneliti BRIN
BRIN Sebut Puting Beliung Rancaekek sebagai Tornado, Dari Borma Hingga Asrama Brimob Dilaporkan Alami Kerusakan
BRIN Umumkan Penemuan 3 Jenis Ngengat Baru, Petani Cengkeh dan Jambu Harus Waspada
BRIN Announces Discovery of 3 New Moth Species, Clove and Guava Farmers Must Be Cautious
Apakah Harimau Jawa Masih Ada di Alam Liar? Begini Penjelasan Peneliti BRIN