Selat Muria Muncul Lagi, Banjir Besar Ancam Pesisir Demak? Begini Tanggapan Peneliti BRIN

photo author
Endan Suhendra, Kabar Alam
- Jumat, 29 Maret 2024 | 22:27 WIB
Petugas mengevakuasi korban banjir Demak (BPBD Demak)
Petugas mengevakuasi korban banjir Demak (BPBD Demak)

KABAR ALAM - Banjir yang melanda Kabupaten Demak dan sekitarnya mencuatkan isu kembali munculnya Selat Muria. Selat ini pernah ada memisahkan Pulau Jawa dan Pulau Muria.

Isu kemunculan kembali Selat Muria yang dikaitkan dengan bencana alam berupa banjir besar di pesisir Kabupaten Demak, Jawa Tengah ini ditanggapi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari, menegaskan pentingnya penelitian terkait isu munculnya kembali Selat Muria ini.

Baca Juga: Tembus 2.215 Kasus, Kota Bandung Waspada Demam Berdarah

Adrin menegaskan, perlu adanya pemahaman komprehensif terkait karakteristik sumber bahaya geologi untuk melakukan mitigasi bencana secara efektif.

“Isu munculnya Selat Muria ini perlu dilihat dari kejadian bencana banjir besar yang terjadi di wilayah pesisir Demak akibat faktor cuaca ekstrem dan juga kontribusi penurunan tanah. Untuk itu riset terkait aspek cuaca ekstrim, dan penurunan tanah sangat penting dilakukan di wilayah pesisir Demak,” katanya di laman resmi BRIN.

Dalam penjelasnnya, ia berpandangan, riset terkait aspek cuaca ekstrem dan penurunan tanah di wilayah pesisir Demak merupakan langkah penting untuk memahami dan mengurangi risiko bencana.

Baca Juga: Kota Bandung Melawan Wabah DBD: Rendam Serbuk Abate dan Plastik Berlubang di Bak Penampungan Air, Dijamin Nyamuk Terbunuh

Diungkapkannya, tim periset dari LIPI pernah melakukan riset pada tahun 2017-2019. Dalam penelitiannya terungkap, laju penurunan tanah di wilayah Kota Demak mencapai 2,4 – 2,5 cm/tahun. Hal itu disebabkan proses pemadatan alami dan penurunan muka air tanah.

Dijelaskannya, fokus riset di Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN itu terkait empat jenis bencana geologi utama yaitu gempa bumi, tsunami, gunungapi, dan gerakan tanah.

Ada lima fokus riset yang dijalankan, meliputi riset dan inovasi terkait bahaya gempa bumi, tsunami, gunung api, gerakan tanah, serta kajian risiko dan resiliensi bencana geologi.

Baca Juga: Demam Berdarah Mewabah, Pemkot Bandung Sebar 300 Kg Serbuk Abate untuk Berantas Sarang Nyamuk

Kegiatan riset dan inovasi yang dilakukan mencakup pemetaan dan pemodelan sumber bahaya geologi, dengan tujuan mendapatkan pemahaman yang komprehensif terkait karakter sumber bahaya geologi dan periode ulang kejadian.

Bencana Geologi

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Endan Suhendra

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X