IA ITB Ingin Perkuat Sinergitas antara Indonesia dan Singapura

photo author
Mia Nurmiarani, Kabar Alam
- Jumat, 14 Oktober 2022 | 07:32 WIB
Duta Besar Indonesia untuk Singapura Suryo Pratomo menerima kunjungan Ketua Umum Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA ITB), Gembong Primadjaja di Kantor Kedutaan Indonesia di Singapura (6/10). (Dok. IA ITB)
Duta Besar Indonesia untuk Singapura Suryo Pratomo menerima kunjungan Ketua Umum Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA ITB), Gembong Primadjaja di Kantor Kedutaan Indonesia di Singapura (6/10). (Dok. IA ITB)

Gembong kemudian memberikan contoh, kemasan program cross border sport ini adalah triathlon. Aktivitas lari dilakukan di Batam wilayah Indonesia dilanjutkan aktivitas bersepeda yang dilakukan di wilayah Singapura. Rencananya, kegiatan ini akan dilaksanakan secara rutin setiap tahun.

Masih berkaitan dengan program kolaborasi, Komisariat Ganesha Startup Club (GSC) IA ITB sedang menyiapkan ajang bergengsi di lingkup ASEAN yang rencananya akan digelar pada Februari – Maret 2023.

Asean Ganesha Startup Challenge merupakan kegiatan bersama para pemuda di Asean dalam mengasah sensifitas dan kemampuannya dalam memberikan solusi yang juga memberikan nilai tambah baik secara ekonomi maupun sosial.

IA ITB Ingin Perkuat Sinergitas antara Indonesia dan Singapura
IA ITB Ingin Perkuat Sinergitas antara Indonesia dan Singapura (Dok. IA ITB)

Baca Juga: #PrayForBogor: Termasuk Bogor, BNPB Peringatkan 10 Kawasan Rawan Banjir Hari Ini

Ketua Ganesha Startup Club IA ITB Luky Shofiul Azmi, ikut mendampingi Gembong dalam kunjungan ke Singapura pada 6 Oktober 2022 yang lalu untuk menangkap peluang kolaborasi apa saja yang dapat dilakukan.

Selain cross border sport, Asean Ganesha Startup Challenge, program kolaborasi antara Indonesia dan Singapura yang lainnya adalah pelatihan artificial intelligence (AI).

Artificial intelligence merupakan trend baru di dunia IT (informasi dan teknologi) dimana memungkinkan mesin untuk mengolah data dan belajar dari pengalaman maupun data yang sudah dimasukkan.

"Jadi AI itu kan tingkat kesulitan belajarnya lebih tinggi. Di Singapura sudah ada lembaga pelatihan dan sertifikasi nya. Di Indonesia belum ada. Padahal di Singapura kekurangan engineer. Jadi kita kerjasama biar gap antara Indonesia dan Singapura berkurang," ungkap Luky Ketua Komisariat GSC IA ITB.***

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mia Nurmiarani

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X