KABAR ALAM - Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat, Ardi Andono mengatakan bahwa mahasiswa pencinta alam merupakan benteng biodiversitas di Sumbar.
Hal tersebut dikatakannya dalam Seminar Biodiversity dengan tema Masa Depan Biodiversity dan Pengelolaan Konservasi di Wilayah Sumatera Barat yang diselenggarakan oleh Mahasiswa Pencinta Alam Lingkungan Hidup Universitas Negeri Padang (MPALH-UNP), 1 Oktober 2022 lalu.
Mahasiswa di Sumbar dinilai cukup aktif dalam meningkatkan kesadaran, utamanya dalam menyelamatkan satwa.
Hal itu terbukti dengan adanya 6 mahasiswa yang telah menyerahkan satwa temuan yang dilindungi kepada BKSDA Sumbar melalui Call Center BKSDA Sumbar.
Baca Juga: Empat Jenis Buah-buahan Khas Kalimantan Tengah, Nomor 3 dan 4 Sudah Langka
Pada kesempatan itu Ardi Andono juga menjelaskan tentang bagaimana BKSDA Sumbar mengelola keanekaragaman hayati di 22 kawasan konservasi yang tersebar di 15 kabupaten di Provinsi Sumbar.
"Salah satunya dengan aplikasi SMART RBM (Spatial Monitoring And Reporting Tools- Resort Based Management)," ujar Ardi Andono di hadapan kurang lebih 100 anggota mapala UNP, seperti dikutip dari akun Instagram BKSDA Sumbar, Rabu 5 Oktober 2022.
SMART RBM merupakan aplikasi yang digunakan untuk mendata semua kejadian alam di kawasan konservasi, baik yang terkait tindak pidana/pelanggaran bidang kehutanan, temuan satwa baik secara langsung maupun tidak langsung, tumbuhan dilindungi, dan aktivitas lainnya.
Baca Juga: Gernas BCL, Ikhtiar KKP dalam Menangani Sampah Plastik di Laut dan Pesisir
SMART RBM dapat memonitor kondisi tapak dan selanjutnya mengevaluasi kondisi kawasan sehingga kita mampu meningkatkan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi di BKSDA Sumbar.
Dari 22 kawasan konservasi yang tersebar di Provinsi Sumbar, dibagi dalam pengelolaan tingkat tapak oleh Resor KSDA Wilayah sebanyak 10 resor.
"Masing-masing resor wajib mengelola kawasan konservasi dengan total luasan keseluruhan kurang lebih 244.000 ha," cuit akun tersebut.
Untuk menerapkan SMART RBM, masing-masing resor memiliki wilayah prioritas yang dibagi dalam bentuk grid dengan luasan 1 km x 1 km.
Baca Juga: BNPB Mengajar Sasar Siswa Sekolah di Kalimantan Timur Terkait Edukasi Kebencanaan
Dengan demikian, data yang diinput dapat cepat, periodik dan sistematis.
Dalam kesempatan tersebut, Ardi juga membagikan buku saku Mitigasi Konflik Manusia-Harimau, Hiduik Badakekan jo Inyeak Balang, baju kampanye penyelamatan orangutan, dan tumbler FOLU Net Sink kepada peserta yang bertanya dan mampu menjawab pertanyaan seputar tugas pokok dan fungsi BKSDA Sumbar.***
Artikel Terkait
Kucing Merah yang Hampir Punah Terekam Camera Trap BKSDA Kalimantan Tengah
BKSDA Yogyakarta Terima Serahan Opsetan Satwa Dilindungi dari Warga
BKSDA Sumbar Segera Buka TWA Gunung Marapi, Simak Aturan Baru Pendakiannya
BKSDA Kalteng Larang Pertunjukan Topeng Monyet