KABAR ALAM - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati meresmikan fasilitas Pelayanan Terpadu BMKG Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Operasional Radar Cuaca Kupang, Kamis 2 Januari 2023.
"Markas" pelayanan terpadu BMKG tersebut dibangun untuk memperkuat sistem peringatan dini meteorologi, klimatologi, dan geofisika guna menguatkan mitigasi multibencana geo-hidrometeoroligi untuk mencegah terjadinya korban jiwa.
"Insyaallah, keberadaan fasilitas pelayanan terpadu BMKG ini dapat semakin memperkuat sistem peringatan dini multibencana di wilayah timur Indonesia. Selain itu, semakin memudahkan masyarakat untuk mendapatkan layanan data dan informasi MKG untuk seluruh wilayah NTT," ungkap Dwikorita dalam keterangan tertulis BMKG.
Baca Juga: Hari Lahan Basah Sedunia 2023, KLHK Tanam 30 Ribu Bibit Mangrove di Tapanuli Tengah
Mantan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut menyebut, wilayah NTT merupakan daerah rawan gempa bumi dan tsunami karena diapit beberapa sumber pembangkit gempa aktif.
Di NTT bagian utara terdapat Sumber Gempa Sesar Naik Flores (Flores Thrust), Sesar Naik Sawu (Sawu Thrust) dan Sesar Semau (Semau Thrust).
Kemudian di bagian selatan terdapat sumber gempa pada bidang kontak Zona Megathrust yang memiliki kekuatan maksimum mencapai M8,5, serta Jalur Sesar Naik dan Lipatan Timor (Timor Fold and Thrust Belt-FTB).
Baca Juga: Keren, Pandawara Group Berhasil Angkut 8,7 Ton Sampah Sepanjang Januari 2023
Sejarah mencatat, bencana gempa bumi merusak dan tsunami sudah sering kali terjadi di NTT, seperti pada tahun 1855, 1891, 1896, 1908, 1919, 1977, 1979, 1982, 1991, 1992 dan 2004.
Sementara itu, berdasarkan data kejadian bencana di NTT yang bersumber dari data bencana BPBD Provinsi NTT, bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, curah hujan ekstrem, dan puting beliung adalah bencana yang paling banyak terjadi setiap tahun di NTT.
Bencana paling besar adalah pada saat kejadian Siklon Tropis Seroja pada 5 April 2021 silam, yang mengakibatkan ratusan orang meninggal dunia dan mencatatkan kerusakan infrastruktur yang cukup massif.
Baca Juga: 6 Hal yang Harus Dilakukan Saat Mendaki Gunung Ciremai via Palutungan Kuningan
Maka, BMKG mempercepat proses pembangunan fasilitas terpadu BMKG di NTT beserta sistem dan infrastrukturnya, agar dapat meminimalisir risiko multi bencana geo-hidrometeorologi melalui kecepatan, ketepatan, dan keakuratan informasi peringatan dini cuaca, iklim, dan tsunami.
Dalam fasilitas tersebut juga dibangun Radar Cuaca C-Band yang mampu mendeteksi fenomena cuaca setiap 10 menit dengan jangkauan wilayah mencapai radius maksimal hingga 350 km.