KABAR ALAM - Kementerian Kesehatan (Kemkes RI) menyebutkan, penerapan teknologi nyamuk ber-wolbachia untuk penanggulangan penyakit demam berdatah dengue (DBD) sudah melalui kajian dan analisis risiko dengan melibatkan 25 peneliti top Indonesia.
Hasil kajian dan analisis penerapan teknologi nyamuk ber-wolbachia pun sudah diujicobakan di Yogyakarta sekitar 5-6 tahun lalu.
Hasil kajian dan efektivitas pengujian nyamuk ber-wolbachia di Yogyakarta ini dikirim ke Badan Kesehatan Dunia (WHO). Pada 2021, nyamuk ber-wolbachia direkomendasikan oleh WHO.
Baca Juga: Pro Kontra Nyamuk Wolbachia, Begini Penjelasan Kemenkes Soal Keampuhannya Kendalikan Demam Berdarah
Berdasarkan rekomendasi WHO, Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes RI) memutuskan untuk memperluas area penyebaran nyamuk wolbachia di lima kota di Indonesia. Kelima kota itu adalah Jakarta Barat, Kota Bandung, Semarang, Bontang dan Kupang.
Peneliti Nyamuk Ber-Wolbachia Universitas Gadjah Mada (UGM). Prof. Adi Utarini menjelaskan, penyebaran dengue di Kota Yogyakarta telah berjalan efektif sejak tahun 2016.
Disebutkan, daerah yang disebar nyamuk ber-wolbachia terbukti mampu menurunkan angka kejadian demam berdarah hingga 77 persen. Selain itu, angka perawatan rumah sakit pun turun 86 persen.
Bahkan, merujuk pada data Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta tahun 2023, kasus demam berdarah dengue tercatat hanya di angka 67 kasus. Jumlah ini merupakan yang terendah selama 30 tahun terakhir.
“Kami membandingkan kecenderungan dengue di Yogyakarta mundur 30 tahun, dari situ kami menyimpulkan memang angka kejadian dengue saat ini terendah sejak 30 tahun lalu. Hasil ini menjadi bukti penelitian di Yogyakarta sekaligus rekomendasi ke WHO untuk vector control advisory Group,” katanya seperti dikutip KABARALAM.com dari laman kemkes.go.id, Sabtu, 25 November 2023.
Prof Adi Utarini menambahkan, selain menurunkan angka kejadian dengue, penyebaran nyamuk ber-wolbachia juga berhasil menekan anggaran penanganan dengue Kota Yogyakarta.
Prof Adi Utarini juga mengungkapkan, salah satu anggaran yang dapat ditekan adalah pembiayaan untuk fogging atau pengasapan.
“Karena tingginya kasus, fogging yang semula bisa 200 kali di tahun 2022, tapi kini bisa 9 kali di tahun ini. Penghematannya bisa sekitar 200-an juta, sehingga biayanya bisa di realokasi untuk hal lain,” katanya.
Artikel Terkait
Paracetamol Sirup Dilarang, Bawang Merah dan Asam Jawa Solusi Recommended untuk Turunkan Demam
Tindak Lanjuti Surat Edaran Kemenkes Soal Ciki Ngebul, Ini Langkah yang Dilakukan Dinkes Bogor
Masih Ada Warga di 6 Daerah Buang Air Besar Sembarangan, Kemenkes RI Apresiasi Komitmen Ganjar Pranowo
Perkuat Proteksi Masyarakat dari Varian Arcturus, Simak Kombinasi 24 Dosis Vaksin Booster Arahan Kemenkes
Pro Kontra Nyamuk Wolbachia, Begini Penjelasan Kemenkes Soal Keampuhannya Kendalikan Demam Berdarah