Profesor UGM Tunjukkan Bukti Keampuhan Nyamuk Wolbachia Tekan Angka DBD di Yogyakarta

photo author
Endan Suhendra, Kabar Alam
- Minggu, 26 November 2023 | 05:40 WIB
Ilustrasi nyamuk wolbachia untuk penanggulangan demam berdarah dengue (DBD) (kemkes.go.id)
Ilustrasi nyamuk wolbachia untuk penanggulangan demam berdarah dengue (DBD) (kemkes.go.id)

KABAR ALAM - Kementerian Kesehatan (Kemkes RI) menyebutkan, penerapan teknologi nyamuk ber-wolbachia untuk penanggulangan penyakit demam berdatah dengue (DBD) sudah melalui kajian dan analisis risiko dengan melibatkan 25 peneliti top Indonesia.

Hasil kajian dan analisis penerapan teknologi nyamuk ber-wolbachia pun sudah diujicobakan di Yogyakarta sekitar 5-6 tahun lalu.

Hasil kajian dan efektivitas pengujian nyamuk ber-wolbachia di Yogyakarta ini dikirim ke Badan Kesehatan Dunia (WHO). Pada 2021, nyamuk ber-wolbachia direkomendasikan oleh WHO.

Baca Juga: Pro Kontra Nyamuk Wolbachia, Begini Penjelasan Kemenkes Soal Keampuhannya Kendalikan Demam Berdarah

Berdasarkan rekomendasi WHO, Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes RI) memutuskan untuk memperluas area penyebaran nyamuk wolbachia di lima kota di Indonesia. Kelima kota itu adalah Jakarta Barat, Kota Bandung, Semarang, Bontang dan Kupang.

Peneliti Nyamuk Ber-Wolbachia Universitas Gadjah Mada (UGM). Prof. Adi Utarini menjelaskan, penyebaran dengue di Kota Yogyakarta telah berjalan efektif sejak tahun 2016.

Disebutkan, daerah yang disebar nyamuk ber-wolbachia terbukti mampu menurunkan angka kejadian demam berdarah hingga 77 persen. Selain itu, angka perawatan rumah sakit pun turun 86 persen.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Terkini BMKG: Hujan Sedang Huyur Medan Selepas Siang Hingga Petang, Minggu 26 November 2023

Bahkan, merujuk pada data Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta tahun 2023, kasus demam berdarah dengue tercatat hanya di angka 67 kasus. Jumlah ini merupakan yang terendah selama 30 tahun terakhir.

“Kami membandingkan kecenderungan dengue di Yogyakarta mundur 30 tahun, dari situ kami menyimpulkan memang angka kejadian dengue saat ini terendah sejak 30 tahun lalu. Hasil ini menjadi bukti penelitian di Yogyakarta sekaligus rekomendasi ke WHO untuk vector control advisory Group,” katanya seperti dikutip KABARALAM.com dari laman kemkes.go.id, Sabtu, 25 November 2023.

Prof Adi Utarini menambahkan, selain menurunkan angka kejadian dengue, penyebaran nyamuk ber-wolbachia juga berhasil menekan anggaran penanganan dengue Kota Yogyakarta.

Baca Juga: Jelang Bulan Desember dan Masa Liburan Akhir Tahun 2023, Price List Penginapan dan Glamping Ipukan Highland Belum Berubah, Cek Aja!

Prof Adi Utarini juga mengungkapkan, salah satu anggaran yang dapat ditekan adalah pembiayaan untuk fogging atau pengasapan.

“Karena tingginya kasus, fogging yang semula bisa 200 kali di tahun 2022, tapi kini bisa 9 kali di tahun ini. Penghematannya bisa sekitar 200-an juta, sehingga biayanya bisa di realokasi untuk hal lain,” katanya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Endan Suhendra

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X