KABAR ALAM - Pro kontra penyebaran nyamuk wolbachia dalam penanggulangan penyakit demam berdarah dengue (DBD) muncul di masyarakat. Bahkan, penolakan seperti yang terjadi di Bali pun mnencuat ke permukaan.
Merespon pro kontra ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) menegaskan jika inovasi wolbachia ini menjadi cara ampuh dan hemat untuk mengendalikan demam berdarah.
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, Maxi Rein Rondonuwu menegaskan, penyebaran nyamuk ber-wolbachia dipastikan aman karena telah melalui proses penelitian yang panjang dengan melibatkan banyak ahli.
“Penerapan teknologi nyamuk ber-wolbachia sudah melalui kajian dan analisis risiko dengan melibatkan 25 peneliti top Indonesia, dan hasilnya bagus, sudah diujicobakan di Yogyakarta sekitar 5-6 tahun lalu dan hasilnya sangat menggembirakan” katanya seperti dikutip KABARALAM.com dari laman kemkes.go.id, Sabtu, 25 November 2023.
Disebutkan, hasil kajian dan efektivitas pengujian dikirim ke Badan Kesehatan Dunia (WHO). Pada 2021, nyamuk ber-wolbachia direkomendasikan oleh WHO.
Atas rekomendasi WHO, Kementerian Kesehatan memutuskan untuk memperluas area penyebaran nyamuk wolbachia di lima kota di Indonesia.
Kelima kota itu adalah Jakarta Barat, Kota Bandung, Semarang, Bontang dan Kupang.
Maxi mengatakan, kendati telah menunjukkan hasil yang baik, pelaksanaan nyamuk ber-wolbachia tetap memerlukan monitoring dan evaluasi secara berkala.
Hal ini harus dilakukan untuk mengetahui perkembangan dari penyebaran nyamuk ber-wolbachia.
Baca Juga: 5 Cafe Kuningan Unggahan Terpopuler Akhir Pekan Ini, Terakhir Masih Jarang Dikupas
Selain itu, Kemenkes juga telah mengeluarkan Buku Pedoman Penanggulangan Dengue dengan metode nyamuk ber-wolbachia di 5 kota untuk memastikan implementasi wolbachia berjalan baik sesuai dengan penelitian di Yogyakarta.
Dalam penjelasannya, Kemenkes juga mengungkapkan, demam berdarah masih menjadi masalah di Indonesia. Di tahun 2023, tercatat ada 76.449 kasus dengue dengan 571 kasus kematian mulai dari Januari-November, walau kasus ini sudah menurun dibanding tahun lalu tetapi masih ada kasus kematian per tahunnya.
Tahun 2022, dilaporkan ada 143.300 dengan 1.236 kematian. Kelompok umur dengan kematian tertinggi pada rentang usia 5-14 tahun.
Artikel Terkait
Angka Kematian Menurun, Ketua IDAI Apresiasi Kemenkes dan BPOM RI Telah Lakukan Langkah Tepat
Ini Bahaya Penggunaan Nitrogen Cair pada Ciki Ngebul Menurut Kemenkes
Tindak Lanjuti Surat Edaran Kemenkes Soal Ciki Ngebul, Ini Langkah yang Dilakukan Dinkes Bogor
Masih Ada Warga di 6 Daerah Buang Air Besar Sembarangan, Kemenkes RI Apresiasi Komitmen Ganjar Pranowo
Perkuat Proteksi Masyarakat dari Varian Arcturus, Simak Kombinasi 24 Dosis Vaksin Booster Arahan Kemenkes