COVID-19 dan Potensi Bioetanol Hutan Tropis Kita

photo author
Islaminur Pempasa, Kabar Alam
- Kamis, 8 September 2022 | 10:50 WIB

Indonesia sebagai negara beriklim tropis, sangat kaya akan lignoselusosa. Menurut LIPI (2019) dalam buku Perkembangan Bioetanol G2, apabila potensi tersebut dikembangkan, akan mampu memenuhi kebutuhan etanol Indonesia berdasarkan kebutuhan energi nasional 2006-2025. 

Riset melaporkan bahwa dari sektor kehutanan dihasilkan limbah lignoselulosa yang bersumber dari penebangan HTI kayu serat (23,3%), industri penggergajian (40,48%) dan industri kayu lapis (54,81%). Aktivitas dari sektor pertanian dan perkebunan juga banyak menghasilkan limbah lignoselulosa, baik sebagai hasil samping maupun limbah. Limbah produksi pabrik kelapa sawit (tandan kosong) dan pabrik gula dari serat tebu, diantaranya, adalah sumber lignoselulosa yang potensial di Indonesia. 

Proses pengolahan lignoselulosa yang kompleks dan lebih mahal dibandingkan bahan baku gula dan pati tentu menjadi tantangan terbesar. Selain lokasi sumber daya yang jauh dari pusat pembangunan infrastruktur sehingga mempengaruhi harga pendistribusiannya.

Baca Juga: Papan Serat Non Kayu Produk Furnitur Masa Depan

Limbah dari produksi bioetanol juga perlu mendapat perhatian, selain karena jumlahnya sangat banyak dan berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak diolah, melainkan juga sumberdaya potensial untuk diolah menjadi kimia adi yang bermanfaat dan bernilai ekonomis.   

-

Produksi bioetanol dari lignoselulosa saat ini masih dalam skala penelitian. Upaya terus dilakukan untuk menemukan metode dan bahan baku lignoselulosa yang menghasilkan rendemen dan kadar bioetanol yang sesuai kebutuhan dan layak produksi secara komersial ekonomis. 

Mendukung Ketahanan Kesehatan Nasional 

Dalam Rencana Aksi Nasional Ketahanan Kesehatan Indonesia (National Action Plan for Health Security/NAPHS) 2020-2024 dan Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2019 tentang Peningkatan Kemampuan Mencegah, Mendeteksi, dan Merespon Wabah Penyakit, Pandemi Global, dan Kedaruratan Nuklir, BIologi, dan Kimia, tertuang peran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Riset dan Inovasi yang dilakukan BLI, tentunya akan berkontribusi nyata. 

Baca Juga: Laut Berbicara tentang Carbon Dioxide Removal (CBD)

Tingginya kebutuhan etanol ditengah pandemi COVID-19 ini dan potensi lignoselulosa yang dimiliki hutan, menunjukkan bahwa hutan menjadi salah satu unsur penting dalam mendukung ketahanan kesehatan nasional Indonesia. 

Menyadari potensi sumber daya itu, kita dapat menilik lagi kemampuan untuk memanfaatkan potensi sumber daya  alam yang dimiliki sebaik mungkin. Sebagai langkah awal, pemanfaatan-pemanfaatan skala industri kecil akan membantu pasokan kebutuhan lokal akan etanol sebagai bahan disinfektan dan antiseptik di tengah lonjakan kebutuhan etanol di masa pandemi COVID-19 ini.***

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Islaminur Pempasa

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Perekat Tanin vs Sick Building Syndrome

Rabu, 18 Desember 2024 | 13:02 WIB
X