COVID-19 dan Potensi Bioetanol Hutan Tropis Kita

photo author
Islaminur Pempasa, Kabar Alam
- Kamis, 8 September 2022 | 10:50 WIB

-
Baca Juga: Faloak untuk Obati Hepatitis, Mitos atau Fakta?

Dengan menggunakan reaktor generasi 3, dari 100 liter nira aren dapat dihasilkan 20 liter bioetanol (rendemen 20%) dengan kadar sekitar 80%. Pada proses dehidrasi, nira aren dapat menghasilkan kadar etanol sebesar 99.5%. Teknologi pengolahan nira ini telah didiseminasikan kepada para pengguna melalui berbagai media, baik daring maupun tatap muka.

Di lapangan, teknologi ini telah diaplikasikan pada pengembangan Desa Mandiri Berbasis Aren di Boalemo, Gorontalo sejak 2017 silam. Desa Bendungan di Kecamatan Mananggu, Boalemo tersebut menjadi desa model pemanfaatan aren secara komprehensif, yaitu sebagai bioenergi dan pangan. 

Potensi aren di Indonesia cukup besar.  Kementerian Pertanian memperkirakan terdapat lebih dari 70.00 ha tanaman aren yang tersebar di 14 provinsi di Indonesia. Di wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Boalemo, yang mengadopsi iptek biotenaol BLI, terdapat sekitar 15.000 tanaman aren alami yang tersebar di 7 kecamatan.

 

Baca Juga: Ratu Anggrek dari Sebangau

Apabila rata-rata setiap pohon aren menghasilkan nira sebanyak 20 liter, maka dalam sehari KPH Boalemo akan mampu memperoleh nira aren sebanyak 300.000 liter atau setara dengan 60.000 liter bioetanol nira berkadar 80%.  

Bioetanol yang dihasilkan tersebut, selain dapat digunakan sebagai bahan bakar juga dapat dimanfaatkan untuk membuat cairan disinfektan dan antiseptik di masa pandemi COVID-19 ini.  Kini, Boalemo dan daerah lain yang telah mengaplikasikan teknologi tersebut, berpeluang lebih mampu mandiri untuk membuat cairan disinfektan dan antiseptik dalam upaya pencegahan penyebaran COVID-19. Tidak perlu tergantung pada pasokan etanol dari pasar. 

Reaktor bioetanol tersebut (generasi 1), juga dapat dimanfaatkan untuk memproduksi bioetanol dari bahan baku pati yang terdapat pada tanaman sagu, biji mangrove dan umbi-umbian yang banyak di tanaman di bawah tegakan hutan. Dengan demikian pilihan jenis untuk memproduksi bioetanol makin beragam. 

Baca Juga: Pengembangan Kelor untuk Ekonomi Kreatif di Kampar

Bioetanol Generasi 2 – G2 

Mengandalkan tumbuhan mengandung gula dan pati untuk menghasilkan  bioetanol seringkali berkompetisi dengan kebutuhan pangan. Nira diketahui dapat diolah gula aren dan gula semut. Sementara pati dari sagu dan umbi-umbian menjadi sumber karbohidrat bagi masyarakat. Bahkan pada beberapa daerah menjadi sumber makanan pokok. Ketersediaan bahan baku adalah tantangan utama dalam produksi bioetanol G1 ini. 

Oleh karenanya, lembaga-lembaga riset, temasuk BLI-KLHK mengembangkan teknologi proses produksi bioetanol dari biomassa lignoselulosa, atau disebut sebagai bioetanol generasi kedua (G2). Serangkaian penelitian bioetanol dari limbah batang sawit, limbah kayu sengon, perlakuan awal pengolahan lignoselulosa, limbah serat sagu, termasuk prospek jenis kayu kurang dikenal sebagai penghasil bioetanol, telah dilakukan dalam kurun waktu 2010-2019. 

Lignoselulosa merupakan komponen utama penyusun dinding sel tumbuhan. Proses pengolahan bioetanol dari lignoselulosa, tentu lebih rumit dari zat gula atau pati.  Dibutuhkan 4 tahap yaitu perlakuan awal untuk delignifikasi dan dekristalisasi. Tahap kedua proses hidrolisis/sakarifikasi untuk menghasilkan glukosa. Tahap ketiga fermentasi gula menjadi etanol dan tahap keempat adalah pemurnian melalui distilasi dan dehidrasi. 

Baca Juga: Pengembangan Kelor untuk Ekonomi Kreatif di Kampar

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Islaminur Pempasa

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Perekat Tanin vs Sick Building Syndrome

Rabu, 18 Desember 2024 | 13:02 WIB
X