Potensi Bambu sebagai Sumber Silika Ramah Lingkungan

photo author
Islaminur Pempasa, Kabar Alam
- Kamis, 25 Agustus 2022 | 07:44 WIB

Oleh: Lisna Efiyanti, S.Si, M.Sc

Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Pengelolaan Sumber daya Alam dan Lingkungan, IPB University

Silika, mungkin tidak semua masyarakat mengetahui secara detil tentang salah satu jenis material ini. Padahal dalam keseharian, kita seringkali menemukan bahan ataupun produk yang mengandung silika tersebut tanpa tahu fungsi yang sesungguhnya dan darimana silika berasal. Salah satu produk silika yang umum digunakan yaitu silika yang berbentuk gel, biasa ditemukan jika kita membeli produk-produk seperti makanan ringan, tas, sepatu dan lain sebagainya. Contoh fungsi silika yang sering dijumpai masyarakat adalah yaitu sebagai pengawet dan adsorben. Silika juga dimanfaatkan di industri keramik, kaca, farmasi, limbah dan masih banyak lagi fungsi silika yang tidak bisa kita remehkan.

Silika secara garis besar dapat diklasifikasikan dari 3 jenis sumber perolehannya, yaitu silika mineral, silika sintesis dan silika nabati.  Silika mineral dapat ditemukan pada mineral lempung/zeolit yang apabila diberi perlakuan khusus dapat membentuk silika faujasit dengan kadar kemurnian yang tinggi. Adapun silika sintetis yaitu silika yang dibentuk dari hasil pemanasan pasir suhu tinggi serta reaksi silikon dan oksigen pada suhu tinggi. Sedangkan silika lain yang sedang menarik perhatian ilmuan saat ini adalah silika yang diperoleh dari bahan nabati yang berkelanjutan, dapat diperbaharui, berlimpah ketersediaannya, bahkan dapat memanfaatkan sumber-sumber limbah disekitar kita.

Selama ini sumber bahan baku silika yang banyak digunakan yaitu berasal dari bahan sintetis dan mineral alam seperti pasir dan zeolit. Namun ternyata, banyak sekali potensi-potensi biomassa yang dapat digali dan dimanfaatkan sebagai sumber silika terbarukan. Penggunaan biomassa terutama limbah tentu saja akan mendukung tujuan aplikasi kimia hijau yang lebih ramah lingkungan. Salah satu biomassa yang berpotensi adalah bambu. Potensi bambu sebagai bahan baku biomassa sumber silika di Indonesia diketahui sangatlah melimpah.

Baca Juga: Balai Taman Nasional Gunung Leuser Beri Pembekalan kepada 30 Pemandu Wisata Lawe Gurah

Bambu merupakan tanaman yang banyak tersebar di dunia, sekitar 1200 jenis, 160 diantaranya tersebar di Indonesia dan bersifat endemik. Luas lahan bambu di dunia berkisar 22 juta Ha tersebar di lebih dari 70 negara. Indonesia sendiri merupakan negara penghasil bambu dengan peringkat ke-3 di dunia. Bambu banyak digunakan sebagai bahan kerajinan dan konstruksi bangunan menggantikan kayu karena memiliki kelebihan, yakni cepat tumbuh, waktu panen yang singkat, dapat tumbuh di berbagai kondisi lahan, serta terus menerus memunculkan tunas baru.

Produksi kerajinan tersebut menghasilkan jumlah limbah yang tinggi dan tidak termanfaatkan dengan baik. Selain untuk kerajinan atau pemanfaatan konvensional, bambu atau limbah daun bambu ternyata juga dapat dimanfaatkan menjadi bahan baku material maju, seperti silika. Kandungan silika pada bambu diketahui tertinggi kedua setelah sekam padi, dengan kadar sekitar 60-70% dari abu daun bambu. Pemanfaatan bambu sebagai sumber silika penting untuk dikembangkan sebagai salah satu bentuk pengelolaan sumberdaya alam berkelanjutan sekaligus mendorong program strategi nasional dalam pengembangan teknologi hilir bambu.

Hasil penelitian penulis juga menunjukkan bahwa perolehan silika terbesar justru didapatkan dari limbah biomassa dibanding silika dari pasir alam atau mineral lain, dengan perbedaan perolehan yang sangat tinggi, berkisar hampir 20x lipat. Silika nabati diketahui dapat dimanfaatkan menjadi nanokomposit, bioimaging agents, katalis, degradasi rhodamin B, zat aditif, sensor satelit, adsorben, bahkan untuk antikanker dan degradasi limbah medis. Produk silika nabati yang diperoleh dari bahan baku limbah biomassa dapat menjadi produk material maju dengan fungsi luar biasa. Hal ini tentu saja sangat menjanjikan karena ketersediaan biomassa yang melimpah dan dapat diperbaharui.

Teknologi pengolahan silika nabati juga disinyalir memiliki biaya yang lebih rendah dari segi perolehan bahan baku dan pembuatan produk dibanding dengan silika sintetis atau silika mineral dengan segala keterbatasannya. Penelitian dan eksplorasi lebih dalam tentunya diperlukan untuk mengembangkan tingkat kemurnian, kualitas dan efektifitas produksi silika nabati yang sesuai untuk kepentingan dimasa depan. Dengan bantuan teknologi, silika nabati yang bersumber dari limbah biomassa mampu menjadi alternatif pengganti silika sintetis dimasa depan.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Islaminur Pempasa

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Perekat Tanin vs Sick Building Syndrome

Rabu, 18 Desember 2024 | 13:02 WIB
X