tapak

COVID-19 dan Potensi Bioetanol Hutan Tropis Kita

Kamis, 8 September 2022 | 10:50 WIB

Oleh: Dyah Puspasari

Perbincangan tentang etanol sebagai bahan menonaktifkan virus kembali mencuat. Etanol telah banyak dimanfaatkan pada bidang transportasi (bahan bakar terbarukan), industri (kimia, kosmetik, makanan, minuman, disinfektan) dan farmasi (obat-obatan, antiseptik). 

Kini, di tengah tingginya permintaan etanol (etil alkohol) sebagai salah satu bahan pembuatan disinfektan dan antiseptik untuk mencegah penyebaran coronavirus disease (COVID-19), kehadiran bioetanol dapat menjadi alternatif.

 

Bioetanol, sejatinya adalah etanol. Perbedaannya dengan etanol sintetik (yang dikenal dengan nama pasar “alkohol") terletak pada bahan baku pembuatannya. Bioetanol merupakan etanol yang berbahan baku tumbuh-tumbuhan (biomassa), sementara etanol sintetik dihasilkan dari sintesis kimiawi senyawa hidrokarbon yang berasal dari minyak bumi.

Baca Juga: Penanganan COVID-19 dalam Perspektif IAS

Sejak 1888, Etanol telah dikenal sebagai agen anti-mikroba. Keefektifan anti-mikroba tertinggi dapat dicapai pada kadar etanol 60-85%, dan dapat mencapai 99% apabila menggunakan bahan baku nira dengan proses dehidrasi. 

-

Etanol dilaporkan memiliki aktivitas virucidal yang kuat dan luas untuk menonaktifkan virus. Etanol 80% sangat efektif melawan cukup banyak virus, diantaranya virus SARS, MERS, ebola, influensa A termasuk tipe, H3N2, H3N8 dan H1N1.  

Beberapa virus tertentu seperti virus polio, echovirus 11, enterovirus manusia, dan coxsackie virus B3, hanya dapat dinonaktifkan oleh etanol pada 95%. Etanol kadar 70% adalah konsentrasi paling efektif untuk membunuh fase jaringan beberapa jenis jamur penyebab pneumonia. Namun demikian, riset juga menemukan bahwa volume, lamanya waktu dan teknik disinfeksi menggunakan etanol juga berpengaruh pada efektivitasnya. 

Baca Juga: Memformasikan Sains Membangun Standar LHK

Bioetanol Generasi 1 – G1 

Indonesia, sebagai negara beriklim tropis, dengan beragam tumbuhan di dalamnya, sangat berpotensi mampu menjawab kebutuhan etanol tersebut. Bioetanol generasi pertama (G1) misalnya, yang dihasilkan dari bahan baku gula dan pati, dapat diproduksi dari nira yang berasal pohon aren (Arenga pinnata), lontar (Borassus flabellifer) dan nipah (Nypa fruticans), serta pati yang berasal pohon sagu (Metroxylon sagu).

Jenis-jenis tersebut secara alami masih banyak tumbuh di Indonesia, dan di beberapa daerah telah dibudidayakan oleh masyarakat. Memproduksi bioetanol dari nira relatif mudah. Secara tradisional, masyarakat lokal telah mampu mengolah nira menjadi bahan beralkohol (minuman tuak). Hanya saja kadarnya rendah, sekitar 30-35%.

Melihat potensi dan peluang produksi bioetanol dari jenis-jenis tersebut, Sejak 2014 Badan Litbang dan Inovasi (BLI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah mengembangkan Iptek bioetanol. Melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan (P3HH), telah dihasilkan reaktor pengolahan bahan baku bioetanol, yang terus disempurnakan dari generasi 1 sampai 3. 

Halaman:

Tags

Terkini

Perekat Tanin vs Sick Building Syndrome

Rabu, 18 Desember 2024 | 13:02 WIB