KABAR ALAM - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya dan Menteri Iklim dan Lingkungan Norwegia, Espen Barth Eide menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) tentang Kemitraan dalam Mendukung Upaya Indonesia Menurunkan Emisi Gas Rumah Kaca dari Kehutanan dan Penggunaan Lahan di Jakarta, Senin, 12 September 2022.
Kesepahaman ini akan memperkuat upaya Indonesia dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Siti Nurbaya menegaskan, MoU ini tidak hanya mencerminkan kemitraan dan kesepakatan berbasis hasil kedua negara, melainkan mencakup keterlibatan yang lebih luas terkait isu-isu iklim dan pengelolaan hutan di Indonesia.
Baca Juga: Kondisi Mangrove Indonesia Hingga Tahun 2021
"MoU tersebut menekankan pentingnya manfaat yang dapat diberikan secara nyata dan langsung pada masyarakat, serta bagi kemajuan Indonesia sesuai dengan tata kelola dengan mengedapankan prinsip transparansi, akuntabel, inklusif, serta partisipatif. Seperti yang tercermin dalam upaya Indonesia untuk terus memperkuat partisipasi masyarakat adat dalam pengelolaan hutan lestari, antara lain melalui penetapan UU Cipta Kerja sebagai dasar hukum," ujar Siti.
Ruang lingkup kerja sama meliputi pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan dengan melindungi dan mengelola hutan dengan partisipasi masyarakat, termasuk masyarakat adat, peningkatan kapasitas untuk memperkuat penyerapan karbon hutan alam melalui pengelolaan hutan lestari, rehabilitasi hutan dan perhutanan sosial, termasuk mangrove, konservasi keanekaragaman hayati, pengurangan emisi gas rumah kaca dari kebakaran dan kerusakan lahan gambut, penguatan penegakan hukum, komunikasi, konsultasi dan pertukaran pengetahuan pada lingkup internasional tentang kebijakan dan agenda iklim, kehutanan dan tata guna lahan, serta pertukaran informasi dan pengetahuan pada tingkat teknis.
Barth Eide mengaku terkesan dengan perjuangan Indonesia dalam mengendalikan perubahan iklim khususnya melalui pengurangan emisi gas rumah kaca dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya/Forestry and Other Land Use (FoLU).
Baca Juga: Serentak Digelar 10-25 September 2022, Ini Makna Tema World Cleanup Day Indonesia 2022
“Indonesia adalah pemimpin global dalam mengurangi deforestasi, yang memberikan mitigasi iklim yang signifikan secara global serta perlindungan keanekaragaman hayati,” ujar Barth Eide.
“Keberhasilan ini adalah hasil dari peraturan Pemerintah yang kuat. Hari ini kami bangga memulai kemitraan baru untuk mendukung hasil mengesankan dan rencana ambisius pemerintah Indonesia,” ujarnya.
Kerjasama baru ini disebut Barth Eide untuk memperkuat perjuangan melawan perubahan iklim dan untuk mengurangi emisi dari sektor hutan dan penggunaan lahan lainnya. Menurutnya, kerja sama internasional sangat penting untuk melestarikan ekosistem alami yang tak tergantikan dan mencapai ambisi iklim global di bawah Perjanjian Paris.***
Artikel Terkait
G20 Sepakati Kerja Sama Peran Lautan Dalam Aksi Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim
Kerja Sama Bidang Lingkungan Hidup dan Iklim Diperjuangkan
Jejak Ratu Elizabeth II di Konferensi Iklim COP26: Saatnya Beraksi, Bukan Basa-basi
Hadapi Krisis Iklim, Menteri Pertanian Dukung Program Modernisasi Irigasi
Siti Nurbaya Ajak Menteri Iklim dan Lingkungan Hidup Norwegia Tanam Mangrove di Kaltim