Siti Nurbaya Ajak Menteri Iklim dan Lingkungan Hidup Norwegia Tanam Mangrove di Kaltim

photo author
Yudi Noorahman, Kabar Alam
- Senin, 12 September 2022 | 05:54 WIB
Menteri LHK Siti Nurbaya melakukan penanaman mangrove bersama dengan Menteri Iklim dan Lingkungan Hidup Norwegia Espen Barth Eide di Desa Sotek, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser utara, Kalimantan Timur, Minggu 11 September 2022. (ppid.menlhk.go.id)
Menteri LHK Siti Nurbaya melakukan penanaman mangrove bersama dengan Menteri Iklim dan Lingkungan Hidup Norwegia Espen Barth Eide di Desa Sotek, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser utara, Kalimantan Timur, Minggu 11 September 2022. (ppid.menlhk.go.id)


KABAR ALAM - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya menanam mangrove bersama Menteri Iklim dan Lingkungan Hidup Norwegia, Espen Barth Eide di Desa Sotek, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kaltim, Minggu 11 September 2022.

Dalam kegiatan tersebut Siti Nurbaya mengajak Menteri Espen Barth Eide ke salah satu lokasi prioritas rehabilitasi mangrove, yaitu di Teluk Balikpapan.

Siti Nurbaya menerangkan bahwa kedatangan Menteri Iklim dan Lingkungan Hidup Norwegia untuk menjajaki kerja sama baru dalam bidang iklim dan lingkungan, khususnya REDD+.

"Hari ini kita ada di salah satu spot kerja BRGM, untuk rehabilitasi mangrove yang juga bagian dari upaya kita untuk mengatasi degradasi lahan. Selama di Balikpapan, kita akan berdiskusi tentang rehabilitasi mangrove dan juga tentu tentang Indonesia FOLU Net Sink 2030," ungkap Siti Nurbaya seperti dikutip KABARALAM.com dari laman ppid.menlhk.go.id.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca DKI Jakarta, Hari Ini, Senin 12 September 2022

Sementara, Espen Barth Eide seusai melakukan penanaman mangrove mengungkapkan bahwa pihaknya senang dapat hadir di Desa Sotek, sebagai simbol untuk kerja sama kuat dan solid Indonesia dengan Norwegia.

"Kami bangga dan sangat menyukai kerja nyata pemerintah Indonesia, Presiden Joko Widodo, dan Menteri Siti Nurbaya yang fokus dalam agenda penyelamatan lingkungan,” kata Espen Barth Eide.

Ia juga menyampaikan bahwa ekosistem mangrove, serta kawasan hutan pada umumnya memiliki peran yang sangat penting bagi seluruh dunia, sebagai pengendali dampak perubahan iklim dengan menyerap emisi.

Kunjungan kerja kali ini, kedua menteri tersebut didampingi juga oleh Wakil Menteri LHK, Alue Dohong, Kepala Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), Hartono, Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari (PHL) KLHK, Agus Justianto, Direktur Jenderal Pengendalian DAS dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH) KLHK, Dyah Murtiningsih, serta para pejabat pimpinan tinggi dari KLHK, BRGM dan Kementerian Kelautan Perikanan.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Kota Bandung, Hari Ini, Senin 12 September 2022: Hujan Ringan di Siang dan Sore Hari

Lokasi penanaman mangrove, yaitu Desa Sotek termasuk salah satu wilayah kerja BRGM dalam melakukan percepatan rehabilitasi mangrove.

Desa ini berlokasi di Kecamatan Penajam, Kabupaten PPU. Tahun lalu, luas wilayah yang direhabilitasi mencapai 65 hektar (ha).

Ekosistem hutan mangrove di Desa Sotek merupakan Areal Penggunaan Lain (APL) sehingga rentan mengalami perubahan pemanfaatan.

Sebelumnya, mangrove di Desa Sotek mengalami kerusakan akibat aktivitas penebangan ilegal serta konversi hutan mangrove menjadi tambak.

Masyarakat sekitar juga kerap memanfaatkan mangrove dengan mengolah menjadi arang agar mempunyai nilai ekonomis yang lebih tinggi.

Baca Juga: World Cleanup Day 2022, Pemkot Bandung-Komunitas Edan Sepur Gelar Bebersih Petak

Tahun ini, target rehabilitasi mangrove di Desa Sotek direncanakan seluas 20 ha.

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kawasan mangrove terbesar di dunia.

Berdasarkan peta mangrove nasional pada tahun 2021, kawasan mangrove di Indonesia mencapai luasan sebesar 3.364.080 juta ha.

Luasan tersebut kemudian terbagi menjadi beberapa kategori, yaitu mangrove lebat seluas 3.121.240 ha atau 92,78% dari total luasan, kemudian mangrove sedang seluas 188.366 (5,60%), dan mangrove jarang seluas 54.474 ha (1,62%).

Selain kawasan mangrove yang telah existing tersebut, pemerintah juga telah menghitung potensi area mangrove sebesar 756.183 ha yang terdiri dari area terabrasi 4.129 ha (0,55%), lahan terbuka 55.889 ha (7,39%), mangrove terabrasi 8.200 ha (1,08%), tambak 631.802 ha (83,55%) dan tanah timbul 56.162 ha (7,43%).***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yudi Noorahman

Sumber: ppid.menlhk.go.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X