"Akibatnya, ada kebutuhan untuk mempercepat transisi energi dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan dan bahan bakar rendah karbon. Penggerak pendukung diperlukan untuk menjawab tantangan dalam mempercepat transisi energi," kata Nicke.
Baca Juga: Varietas Padi Bernutrisi Dikembangkan untuk Atasi Masalah Stunting
Dia menambahkan, Pertamina sebagai salah satu BUMN energi terbesar di Indonesia menunjukkan kontribusinya dalam mendukung komitmen pemerintah untuk menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebagaimana disebutkan dalam Perjanjian Paris.
Untuk itu, kolaborasi yang terbentuk di bawah payung B20 antara Pertamina dengan negara-negara mitra anggota G20 dalam pengembangan bersama beberapa teknologi rendah karbon akan memainkan peran kunci dalam transisi energi. Ini termasuk PV solar panel untuk klaster industri hijau, pemanfaatan limbah kelapa sawit untuk bioenergi, dan pemanfaatan dan penyimpanan penangkapan karbon.
"Ini adalah kolaborasi antara perusahaan, dan negara, dan yang paling penting adalah kolaborasi antara umat manusia untuk berkontribusi dalam tindakan nyata dan nyata untuk mencapai tujuan konsensus menyediakan akses yang adil ke energi berkelanjutan dan melindungi iklim kita untuk generasi yang akan datang," jelas Nicke.***
Artikel Terkait
Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca, Lima Kementerian Berkolaborasi
Pemprov dan PLN Jabar Berkomitmen Dorong Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca dan Pembangunan Ekonomi Hijau
Kabar CSR, Pertamina Ajak Warga Sekitar Waduk Cengklik Boyolali Manfaatkan Eceng Gondok sebagai Sumber Energi
Upaya Turunkan Emisi Gas Rumah Kaca dengan Smart Farming
Dorong Realisasi Pengurangan Emisi, Kadin Bantu Sosialisasikan Restorasi Mangrove