KABAR ALAM - Hubungan iklim dengan pertanian tidak dibisa dipisahkan. Iklim sifatnya adalah pemberian sehingga manusialah yang mesti beradaptasi, bukan alam yang beradaptasi terhadap manusia.
Hal tersebut juga berlaku di bidang pertanian.
Kondisi saat ini telah berubah. Dampak dari perubahan iklim sudah semakin terasa. Namun, masih banyak orang yang tidak terlalu paham dengan kondisi pemanasan global yang sedang terjadi.
"Petani yang mengandalkan siklus cuaca berdasarkan pola lama akan terkaget-kaget. Sebagian besar prediksi cuaca yang mengandalkan siklus terdahulu ternyata kini sudah tidak berlaku lagi. Hasilnya, mereka sering mengalami gagal tanam dan panen," ujar dosen Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem UGM Bayu Dwi Apri Nugroho, Ph.D. saat menjadi narasumber webinar NGOPI (Ngobrol Pintar) Teknologi Penerapan Emisi Carbon Smart Farming pada Komoditi Tembakau, Selasa 23 Agustus 2022.
Baca Juga: Upaya Turunkan Emisi Gas Rumah Kaca dengan Smart Farming
Menurutnya, dengan adanya pemanasan global, siklus perubahan iklim makin memendek.
Kejadian gagal tanam, gagal panen, dan penurunan produktivitas lahan merupakan indikator bahwa perubahan iklim sudah berjalan.
Untuk itu, diperlukan teknologi yang bisa memberikan informasi terhadap perubahan ini.
Tidak mengurangi atau tidak membalikkan atau mengatasi perubahan iklim, tetapi beradaptasi dan memitigasi terkait dengan gagal tanam dan gagal panen.
"Dengan teknologi bisa diperoleh informasi dengan cepat, baik kondisinya seperti apa dan harus bertindak apa. Teknologi yang dibuat selain memberikan notifikasi data terkini yang presisi serta hiperlokal sampai ke level desa atau lahan, juga memberikan rekomendasi yang dibutuhkan petani dalam menggarap pertaniannya," terangnya.
Baca Juga: Pentingnya Pemahaman Manajemen Risiko Sebelum Berkegiatan di Alam Bebas
Teknologi diterapkan untuk menghindari risiko kerugian ekonomi dalam budi daya pertanian yang ada kaitannya dengan perubahan iklim, seperti gagal tanam dan serangan hama.
Menurutnya, selama ini informasi terhadap cuaca tidak tersampaikan ke level desa, terutama kepada petani yang mengolah lahan.
Infomasi yang didapat dari BMKG atau aplikasi cuaca hanya sampai pada level kecamatan. Padahal, cuaca itu sifatnya dinamis dan fluktuatif sehingga cuaca suatu wilayah bisa berbeda dalam jarak beberapa kilometer saja.
Hal ini tentu sangat berpengaruh terhadap kegiatan pertanian atau perkebunan, terutama terhadap cara budi dayanya.
Informasi mengenai perubahan iklim ini harus diberikan kepada petani. Salah satu caranya adalah dengan adanya teknologi.
Baca Juga: Dampak Perubahan Iklim Sudah Terasa, Simak Cerita 3 Mahasiswa Unpad Usai Mengikuti Youth Climate Action Camp
Informasi lain yang harus diberikan adalah terkait literasi atau pengetahuan petani terhadap perubahan iklim.
Untuk menanggulangi permasalahan itu dibutuhkan konsep smart farming. Menurut Bayu, konsep smart farming terdiri atas management information system, precision agriculture, dan otomatisisasi dan robotik.
Management information system berkaitan dengan otomasi atau dukungan terhadap pengambilan keputusan sistem pakar. Ada serangkaian data yang diambil dari suatu lokasi yang nantinya bisa dijadikan perencanaan, pengendalian, dan pengambilan keputusan.
"Precision agriculture artinya teknologi yang dibuat memberikan data yang presisi, memberikan sesuatu sesuai dengan kebutuhannya, sesuai dengan porsinya," katanya.
Sementara proses penerapan robotika, kontrol otomatis dan kecerdasan buatan, bagaimana hubungan drone dan sensor yang diterapkan di lahan.
Baca Juga: BMKG: Kemarau Basah Indikasi Dampak Perubahan Iklim
Dalam konsep smart farming, memasukkan aplikasi teknologi informasi komunikasi modern (ICT) ke dalam pertanian itu menjadi satu kesatuan yang harus ada.
Bayu mengatakan, dalam adaptasi dan mitigasi perubahan iklim diperlukan teknologi untuk skala mikro/lokal.
Teknologi skala mikro akan lebih bermanfaat dan presisi apabila digabungkan dengan machine learning dan artificial intelligence.
Untuk itu, ia merancang aplikasi sensor cuaca dan tanah yang telah banyak dipakai oleh petani. Aplikasi ini membantu petani yang terkena dampak perubahan iklim.
Baca Juga: Antisipasi Dampak Perubahan Iklim, Kembangkan Sistem Peternakan Ramah Lingkungan
Sensor tersebut bisa memprediksi cuaca dengan akurat sehingga petani dapat menentukan jadwal tanam, mengukur kebutuhan air, dan menentukan komoditas terbaik yang akan dibudidayakan.
Sensor juga digunakan untuk mengetahui kondisi tanah sehingga bisa menentukan teknik budi daya yang tepat untuk diterapkan.
Selain itu, memberikan notifikasi kondisi terkini terkait tanah dan cuaca. Dari peringatan dini ini akan muncul rekomendasi apa yang harus petani lakukan untuk meminimalisasi risiko.
Data dari sensor ini dapat digunakan untuk mengevaluasi sistem irigasi dan menghitung konsentrasi emisi gas rumah kaca.
“Pemanfaatan teknologi di lahan menjadi critical point di sisi budi daya dalam peningkatan produktivitas pertanian dan lingkungan pendugaan emisi gas rumah kaca, termasuk di komoditas tembakau,” jelas dosen peraih Penghargaan Insan Berprestasi UGM 2020 ini.
Bayu juga mengatakan bahwa petani tidak butuh sensor yang dipasang di lahan. Yang dibutuhkan petani adalah kepastian cuaca yang terjadi esok hari.
Baca Juga: Guru Besar IPB Tekankan Pentingnya Kolaborasi dalam Aksi Mitigasi Sektor FOLU
Untuk itu, Bayu mengembangkan algoritma yang dapat membantu menerjemahkan data menjadi informasi yang mudah dipahami oleh petani.
Hasil algoritma tadi dikaitkan dengan pertumbuhan komoditas yang sedang ditanam oleh petani.
Bayu memanfaatkan teknologi artificial intelligence untuk membuat output rekomendasi apa yang harus dilakukan berdasarkan data yang disajikan kepada petani.
Dengan demikian, petani hanya tinggal melaksanakan apa yang menjadi rekomendasi teknologi ini, tidak lagi kebingungan harus menerjemahkan data.
Sementara itu, Direktur PT LAPI ITB Muhammad Hariyadi Setiawan selaku moderator menyimpulkan bahwa teknologi itu bukanlah segalanya.
Yang penting adalah bagaimana memaksimalkan sumber daya manusia dalam menggunakan teknologi diharapkan yang bisa menyelesaikan berbagai masalah yang ada dalam pertanian.
"Dalam hal ini bagaimana teknologi smart farming dapat membantu petani melakukan apa yang harus dilakukan dengan bantuan teknologi berdasarkan data," tutupnya.***
Artikel Terkait
Penjelasan Menko Perekonomian Soal Energi Bersih dan Ekonomi Hijau yang Menjadi Agenda Besar Presiden Jokowi
Waspada Karhutla, 7,5 Hektare Lahan Gambut di Kabupaten Sukamara Terbakar
Sejumlah Lokasi di 10 Kecamatan Kota Medan Terendam Banjir, Waspada Potensi Hujan Masih Tinggi
Kepedulian Generasi Muda terhadap Isu Perubahan Iklim Menguat, Begini Reaksi Menteri LHK
Ini 11 Langkah Operasional untuk Mitigasi Pencapaian Indonesia’s FOLU Net Sink 2030