KABAR ALAM - Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Puji Lestari mengatakan, peringatan filantropis Bill Gate soal ancaman perubahan iklim akan lebih mematikan dibanding pandemi Covid-19, menjadi tantangan buat dunia riset.
Salah satu sektor yang bakal terdampak perubahan iklim adalah peternakan. Selain memiliki kontribusi penghasil emisi gas rumah kaca, sektor ini juga sebagai penyedia sumber protein hewani untuk gizi masyarakat.
“Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi dunia riset. Kita memiliki keunggulan komparatif sumber daya genetik ternak dan tanaman pakan ternak. Namun, potensi itu belum dimanfaatkan secara maksimal dalam upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, karena kapasitas iptek yang terbatas," kata Puji dalam keterangan tertulis yang dikutip dari laman BRIN.
Baca Juga: Pengembangan Kelor untuk Ekonomi Kreatif di Kampar
"Ini menjadi tantangan untuk periset BRIN untuk terus terlibat dalam pencarian gen-gen penting melalui analisis genomik, protemik, transkriptomik, dan metabolomik,” tambah Puji.
Hal itu disampaikan Puji saat membuka webinar bertajuk Development Climate Smart Livestock System: Adaptation and Resilience to Climate Change in Indonesia, Kamis, 25 Agustus 2022.
Ia menambahkan, ke depan peran teknologi omics sangat penting dalam mengoptimalkan pemanfaatan ternak. Berbagai inovasi teknologi harus dapat diimplementasikan menjadi sebuah sistem untuk membangun industri peternakan ramah lingkungan dan tahan menghadapi dampak perubahan iklim.
Baca Juga: Angela Gilsha: Berbaur dengan Alam, Berteman dengan Tanaman
Sementara Peneliti Pusat Riset Peternakan, R.A. Yeni Widiawati menerangkan pengembangan peternakan sudah harus diarahkan kepada penanganan gas rumah kaca, melalui pengembangan sistem peternakan ramah lingkungan.
”Sistem ini tujuannya untuk menjaga stabilitas ketersediaan pangan, khususnya ternak secara berkelanjutan. Untuk mencapai program, maka kita harus berkolaborasi. Tidak bisa hanya satu sektor, karena penanganan ternak melibatkan banyak sektor, baik terkait penelitian dan implentasi teknologi yang digunakan. Kolaborasi ini kedepannya akan sangat bermanfaat untuk meningkatkan kapasitas, baik sumber daya manusia, perlengkapan riset, dan ilmu pengetahuan,” katanya.
Peneliti Pusat Riset Sistem Produksi Berkelanjutan dan Penilaian Daur Hidup, M. Nasir Rofiq menambahkan, upaya lain yang dapat dilakukan untuk mengurangi emisi karbon dari produksi peternakan adalah dengan menghitung jejak karbon.
Baca Juga: Top 5 Hits 25 Agustus 2022, Artikel Inovasi Lingkungan Hidup dan Kehutanan Mendominasi
“Jejak karbon dapat dihitung dengan metode tertentu. Data tersebut dapat dikembangkan dengan perluasan dan alokasi sistem menjadi data fisik, ekonomi, dan nutrisi. Data lokal yang diperoleh dapat menjadi data nasional tentang emisi gas rumah kaca yang berasal dari produksi peternakan di Indonesia. Data ini dapat dianalisis bersama melalui kolaborasi riset untuk analisis Life Cycle Assessment dan jejak karbon,” ungkap Nasir.
Sedangkan Peneliti Pusat Riset Peternakan, Mohammad Ikhsan menjelaskan, gas emisi yang dihasilkan dari pupuk kandang juga dapat diukur dengan aplikasi android.
Artikel Terkait
Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca, Lima Kementerian Berkolaborasi
Pemprov dan PLN Jabar Berkomitmen Dorong Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca dan Pembangunan Ekonomi Hijau
Sikapi Isu Perubahan Iklim, ITB- PFAN Siap Gelar Business Coaching untuk Start up
Kepedulian Generasi Muda terhadap Isu Perubahan Iklim Menguat, Begini Reaksi Menteri LHK
BMKG Gelar Sekolah Lapang Iklim Bagi Petani Tembakau, Usung Konsep Smart Farming