Wamenhut Dorong Replikasi Konservasi Berbasis Masyarakat seperti di TNGHS

photo author
Endan Suhendra, Kabar Alam
- Jumat, 17 April 2026 | 16:31 WIB
Wakil Menteri Kehutanan (Wamenhut) Rohmat Marzuki mendorong model konservasi berbasis masyarakat seperti yang diterapkan di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia (kehutanan.go.id)
Wakil Menteri Kehutanan (Wamenhut) Rohmat Marzuki mendorong model konservasi berbasis masyarakat seperti yang diterapkan di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia (kehutanan.go.id)

KABAR ALAM - Wakil Menteri Kehutanan (Wamenhut) Rohmat Marzuki mendorong model konservasi berbasis masyarakat seperti yang diterapkan di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Wamenhut saat memimpin aksi penanaman bibit pohon dalam rangka peringatan Hari Hutan Internasional di Desa Cipeuteuy, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, Selasa, 7 April 2026 lalu.

Mengusung tema “Hutan dan Ekonomi untuk Percepatan SNDC dan FOLU Net Sink Jawa Barat”, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat fungsi kawasan penyangga hutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga: 4 Alasan Kamu Harus Staycation di Terminal Wisata Grafika Cikole

“Kita berkumpul bukan sekadar seremoni, tapi memperkuat benteng konservasi dan ekonomi. Penanaman pohon ini adalah langkah strategis untuk menyambung kembali koridor hijau yang terputus,” ujar Wamenhut dalam arahannya.

Ia menegaskan, konservasi tidak boleh memisahkan masyarakat dari aspek kesejahteraan. Menurutnya, keterlibatan masyarakat dalam penanaman pohon menjadi bukti nyata kolaborasi antara pemerintah, akademisi seperti IPB University, pemerintah daerah, serta kelompok tani.

Dalam kegiatan tersebut, jenis tanaman yang ditanam didominasi oleh Multi Purpose Tree Species (MPTS) atau pohon multifungsi sebesar 70 persen, sementara 30 persen lainnya merupakan tanaman kehutanan endemik.

Baca Juga: Pemkot Pontianak Siaga Karhutla, Antisipasi Curah Hujan Rendah Versi BMKG

Komposisi ini dirancang untuk memberikan manfaat ekonomi langsung melalui hasil buah, sekaligus menjaga fungsi ekologis hutan sebagai penyerap karbon dan penyedia air.

Wamenhut menjelaskan, penanaman ini juga penting untuk mendukung keberlangsungan habitat satwa liar khas Jawa seperti Elang Jawa, Owa Jawa, dan Macan Tutul Jawa.

“Dengan tersambungnya koridor hijau, satwa-satwa tersebut dapat berkembang biak dengan lebih aman di habitat alaminya,” katanya.

Baca Juga: BBKSDA Jabar Periksa Kesehatan Satwa Eks Bandung Zoo, Begini Kondisi Gajah dan Macan Tutul

Selain itu, Wamenhut juga menyoroti pentingnya kawasan hulu Sukabumi sebagai “menara air” yang menopang kebutuhan air di wilayah hilir. Ia menyebut para petani yang terlibat dalam kegiatan ini sebagai pahlawan lingkungan karena turut menjaga ketersediaan air bagi masyarakat luas.

Sebagai bentuk dukungan, dilakukan penyerahan bibit secara simbolis kepada delapan petani yang mewakili empat desa penyangga, yakni Desa Cipeuteuy, Mekarjaya, Cihamerang, dan Kabandungan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Endan Suhendra

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X