Korban Terus Berjatuhan, Konflik Manusia-Buaya di Danau Tuadale Meruncing

photo author
- Senin, 3 Maret 2025 | 14:20 WIB
Korban konflik buaya dan manusia di Suaka Margasatwa Danau Tuadale  (bbksdantt.menlhk.go.id)
Korban konflik buaya dan manusia di Suaka Margasatwa Danau Tuadale (bbksdantt.menlhk.go.id)

KABAR ALAM - Konflik antara manusia dan buaya di Suaka Margasatwa Danau Tuadale semakin meruncing dengan bertambahnya korban. Hanya dua minggu setelah insiden yang menimpa Jiky Orlando Benu, kini Yafet Maak menjadi korban baru dalam pertarungan antara manusia dan buaya.

Pada malam Jumat, 28 Februari 2025, Yafet Maak, seorang warga Desa Sumlili, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, diserang oleh buaya saat sedang memancing ikan menggunakan panah di Danau Tuadale.

Kejadian tragis tersebut menunjukkan eskalasi serius konflik yang terus terjadi di wilayah tersebut. Suaka Margasatwa Danau Tuadale, yang merupakan habitat bagi berbagai satwa liar termasuk buaya, terdiri dari beragam ekosistem seperti danau, hutan bakau, dan hutan pantai.

Baca Juga: Banjir Bandang Terjadi di Puncak Bogor, Begini Dampak Bencana yang Ditimbulkan

Buaya-buaya ini sering kali bermigrasi antara bagian danau dan saluran air yang terhubung ke laut, meningkatkan potensi interaksi dengan manusia.

Data dari BBKSDA NTT mencatat bahwa Yafet Maak adalah korban ke-60 dalam rentang waktu enam tahun terakhir, dengan 31 orang meninggal dunia dan 29 lainnya luka hingga cacat akibat konflik serupa.

Wilayah sekitar Suaka Margasatwa Danau Tuadale, termasuk Desa Lifuleo dan Desa Sumlili, tercatat memiliki sejumlah kejadian serupa yang mengakibatkan korban jiwa.

Baca Juga: Fiersa Besari Ungkap Kronologi 2 Wanita Meninggal Dunia di Tim Ekspedisi Puncak Carstensz

Organisasi internasional seperti IUCN Crocodile Specialist Group menjelaskan bahwa serangan buaya terhadap manusia dapat dipicu oleh berbagai faktor, termasuk kebutuhan buaya untuk mencari makan, mempertahankan wilayah, melindungi sarang atau anak, serta kesalahan serangan yang terjadi akibat kebingungan buaya.

Untuk mengurangi risiko konflik lebih lanjut, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan. Selama musim hujan ketika air sungai meluap, buaya memiliki lebih banyak kesempatan untuk bergerak ke arah daratan.

Langkah pencegahan seperti menghindari lokasi-lokasi yang diketahui sebagai habitat buaya, membangun pagar di pinggir sungai, dan berhati-hati saat beraktivitas di perairan dapat membantu mengurangi insiden konflik manusia-buaya.

Baca Juga: #PrayforPuncak Menggema di Medsos usai Banjir Bandang Kawasan Bogor

Penting bagi masyarakat, terutama nelayan dan wisatawan, untuk secara aktif mencari informasi keamanan lokasi sebelum melakukan aktivitas di sekitar Suaka Margasatwa Danau Tuadale.

Melapor kepada pihak berwenang setempat saat melihat buaya di area publik juga dapat membantu mencegah insiden serangan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Endan Suhendra

Sumber: bbksdantt.menlhk.go.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X