KABAR ALAM – Empat kecamatan di Kabupaten Batu Bara, Sumatra Utara dilanda banjir sejak Senin, 7 Oktober 2022 pukul 14.50 WIB.
Empat kecamatan tersebut yaitu Kecamatan Lima Puluh Pesisir (Desa Gambus Laut), Kecamatan Medang Deras (Desa Sei Buah Keras), Kecamatan Sei Balai (Desa Perkebunan Sei Balai), dan Kecamatan Nibung Mulia (Desa Tanjung Mulia).
Petugas mencatat tinggi muka air (TMA) rata-rata 20 hingga 50 cm. Banjir tersebut dipicu hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi secara terus-menerus di wilayah Kabupaten Batu Bara.
Banjir tersebut mengakibatkan 934 kepala keluarga (KK) terdampak dan beberapa di antaranya mengungsi.
Baca Juga: Nandur Urip, Cara BKSDA Yogyakarta Ajak Masyarakat Hijaukan Suaka Margasatwa Paliyan
“Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Batu Bara telah mendirikan tenda pengungsi di beberapa titik, yakni 2 unit tenda pengungsi di Desa Gambus Laut, 2 unit di Desa Tanjung Mulia, dan 1 unit di Desa Sei Buah Keras. Selain itu, distribusi bantuan logistik berupa sembako dan air bersih juga telah dilakukan,” demikian keterangan tertulis Abdul Muhari, Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Kamis 10 November 2022.
Perkembangan terkini dari lokasi banjir, air masih menggenangi beberapa rumah warga di Desa Gambus. Sementara, di Desa Sei Buah Keras banjir telah surut. Sementara di Desa Tanjung Mulia air banjir masih menggenangi jalan dan rumah warga.
Petugas mencatat, masih terdapat pengungsi di posko pengungsi Desa Tanjung Mulia sebanyak 12 KK dan 8 KK masih berada di posko pengungsi Desa Gambus Laut.
Baca Juga: Yuk Bijak Gunakan Air Tanah!
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika melalui lama lamannya menulis peingatan dini untuk wilayah Sumatera Utara khususnya wilayah lereng barat, pantai barat, dan pegunungan Sumatera Utara untuk waspada hujan dengan intensitas sedang hingga lebat diiringi guntur dan angin kencang.
Lebih lanjut BNPB juga meminta masyarakat agar waspada terhadap potensi cuaca ekstrem pada periode sepekan ke depan (hujan secara sporadis, lebat, dan durasi singkat, disertai petir dan angin kencang, bahkan hujan es), yang berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi berupa banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, dan puting beliung, terutama untuk masyarakat yang berada dan tinggal di wilayah rawan bencana hidrometeorologi.
Baca Juga: COP27: AS, Norwegia, dan Inggris Raya Dukung FOLU Net Sink 2030 Indonesia
Menindaklanjuti hal tersebut, BNPB mengimbau kepada pemerintah pusat dan daerah untuk bersama-sama berkomitmen dalam meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi puncak musim hujan di bulan Desember dan Januari 2023 mendatang.
Komitmen bersama ini dapat berupa apel kesiapsiagaan, simulasi evakuasi, patroli wilayah rawan bencana, maupun gelar peralatan dan perlengkapan.***
Artikel Terkait
Genangan Banjir Surut, JLSS Sudah Bisa Dilalui Kendaraan
Update Banjir Lampung Selatan: Korban Meninggal Menjadi 3 Orang, 1 Dinyatakan Hilang
Update Banjir dan Tanah Longsor Majene: Status Siaga Darurat Ditetapkan Hingga 31 Desember 2022
Banjir Lampung Selatan: 2.649 Rumah Terdampak, Korban Membutuhkan Air Bersih
Banjir Lampung Selatan, Staf Ahli Bupati: Yuk Jaga Alam dan Lingkungan!