Operasional PSEL di Bawuran memerlukan suplai air besar yang rencananya akan disuplai oleh PDAM dan mengambil air dari sungai Oyo yang tentu saja akan mempengaruhi kondisi air di wilayah tersebut.
Selain ancaman degradasi lingkungan, pelibatan Danantara semakin menambah resiko ini menjadi lebih kompleks, terdapat resiko kegagalan proyek yang sangat besar. Tercermin dari kegagalan protipe yang ada di Jakarta, Surabaya dan Solo.
Alih-alih memulihkan lingkungan yang rusak akibat kegagalan pengelolaan TPA Piyungan, PSEL mempunyai potensi untuk memperparah degradasi lingkungan yang terjadi di wilayah tersebut.
Baca Juga: Jasad Tak Dikenal Berhasil Dievakuasi dari Puncak Gunung Ciremai
Sampah telah menjadi masalah laten di Yogyakarta, penyelesaian-penyelesaian dengan menggunakan mesin dan metode insenerasi, terbukti tidak efektif dalam menyelesaikan permasalahan lingkungan.
Di sisi lain proyek waste to energy di Indonesia masih penuh dengan berbagai permasalahan, ditambah dengan pengelolaan yang diserahkan oleh Danantara lembaga yang hari ini masih belum mempunyai visi misi jelas, yang tentu saja menambah risiko proyek besar ini.
Rekomendasi Walhi untuk PSEL Yogyakarta
Maka WalhiYogyakarta merekomendasikan pemerintah daerah Yogyakarta untuk;
1. Menolak pembangunan PSEL di Yogyakarta dan solusi-solusi palsu yang masih menggunakan metode pembakaran (insenerasi).
2. Beralih ke solusi-solusi dengan menekankan pada prinsip-prinsip berkeadilan, dengan melibatkan berbagai pihak khususnya warga yang terdampak atas permasalahan darurat sampah di Yogyakarta;
3. Menawarkan solusi yang bersifat inklusif dan membangun pengelolaan sampah berbasis pada pengetahuan lokal;
4. Menawarkan solusi dengan menghormati batasan planet dengan bergerak menuju ketercukupan yaitu mengoptimalkan pengurangan di hulu atau sumber sampah;
5. Melakukan pemulihan di sekitar TPA Piyungan.***