KABAR ALAM - Wakil Menteri Lingkungan Hidup (Wamen LH)/Wakil Kepala BPLH, Diaz Hendropriyono menegaskan, pengelolaan sampah harus menjadi bagian penting dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hal itu disampaikan Diaz saat meninjau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) MBG di Lanud Husein Sastranegara Bandung, Selasa, 23 September 2025.
Diaz mengatakan, pengelolaan sampah menjadi bagian penting program MBG di Bandung Raya karena TPA Sarimukti akan kelebihan kapasitas pada 2026.
Baca Juga: Bukan Sekadar Camping, Tangkal Pinus Lembang juga Cocok untuk Healing, Ngadem dan Ngopi
Kalau tidak ada solusi, kata Diaz, sampah yang dihasilkan akan menumpuk dan berpotensi merusak lingkungan.
"Karena itu, pengelolaan sampah dari dapur SPPG harus menjadi bagian penting dari program ini,” tegasnya saat meninjau dapur SPPG bersama Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan.
Dapur SPPG III & IV di kompleks Lanud Husein Sastranegara setiap hari memasak hampir 8.000 porsi makanan bergizi bagi siswa sekolah, ibu hamil, dan ibu menyusui. Aktivitas vital ini menghasilkan rata-rata 10 kilogram sampah organik per hari.
Menurut Diaz, potensi sampah ini besar bila dikelola dengan benar. “Sampah makanan jangan dibiarkan menumpuk di TPA karena akan menghasilkan metana, gas rumah kaca yang 38 kali lebih berbahaya dari karbon dioksida. Dengan teknologi yang tepat, sampah justru bisa memberi manfaat," jelasnya.
Sebagai langkah nyata, Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH menyerahkan 2 (dua) unit komposter berkapasitas 30–50 kilogram kepada dapur SPPG Bandung.
Alat ini mampu mengolah sampah organik menjadi kompos padat maupun pupuk cair. Diaz juga menekankan pentingnya pemeliharaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) agar air buangan dapur tidak mencemari lingkungan.***