KABAR ALAM - Berbagai upaya telah dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung untuk penanganan sampah di wilayahnya, termasuk melalui program Kang Pisman dan Kawasan Bebas Sampah (KBS). Kini, Pemkot Bandung juga mendirikan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di beberapa titik.
TPST Cicukang Holis merupakan salah satu TPST yang berjalan di Kota Bandung. TPST ini berhasil mengolah hingga 10 ton sampah kering dan residu setiap harinya dengan sistem RDF.
Teknologi RDF merupakan pengelolaan sampah anorganik melalui proses homogenizers menjadi ukurang yang lebih kecil, atau dibentuk pelet.
Baca Juga: Dekat dengan Alam, Ini 8 Keunggulan Dream Coffee Kuningan yang Unik
Hasil ini nantinya dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan dalam proses pembakaran recovering batu bara untuk pembangkit tenaga listrik.
Pemkot Bandung berencana untuk menambah lebih banyak TPST di tahun 2024, salah satunya di Eks-TPA Cicabe. Namun, usulan ini masih ditolak oleh beberapa masyarakat lokal.
Merespon hal itu, Plh Wali Kota Bandung, Ema Sumarna memastikan berbagai pendekatan dan edukasi kepada masyarakat supaya TPST ini dapat diterima untuk menangani isu mengenai sampah di Kota Bandung.
Baca Juga: Gunung Mayana Kuningan Menyimpan Potensi Wisata yang Terus Dikembangkan
“Itu memang masih ada penolakan, tapi akan kita komunikasi, Saya sudah mintakan lurah dan camat dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLHK) Kota Bandung untuk lakukan pendekatan dan penjelasan,” tutur Ema di laman resmi Pemkot Bandung.
Ema berpendapat bahwa adanya kemungkinan miskomunikasi dan salah paham terdapat TPST. Padahal, TPST merupakan sebuah langkah yang tepat, baik, dan benar untuk menanggulangi sampah.
“Contoh yang di Holis, Itu mungkin mereka (warga Cicabe) kalau sudah melihat TPST di Holis justru akan terbayang seperti apa penanganan pola TPST ini,” katanya.
Baca Juga: Testimoni Pengunjung Bukit Batu Sepur: View-nya Keren, Ada Rumah Pohon untuk Menginap
Ema menambahkan, sampah akan lebih mudah ditangani dengan TPST. Unsur bau dari sampah pun akan terurai dengan program ini. Ia mengungkapkan, “Justru di sana terjadi sirkuler ekonomi karena menjadi produk-produk yang bisa dimanfaatkan dan bernilai ekonomi.”
Dirinya mewajari apabila ada yang belum memahami mengenai proses TPST. Hal ini dapat menimbulkan asumsi-asumsi negatif. Ketika prosesnya sudah dipahami dan melihatnya secara langsung, Ema Sumarna yakin masyarakat akan bisa menerima TPST dengan lebih bijak.
“Jadi logikanya begini, kebijakan yang pemerintah ambil itu sudah diperhitungkan tidak akan membahayakan masyarakat. Pembangunan apapun juga untuk kepentingan masyarakat. Tapi kalau saat ini mereka masih ada asumsi-asumsi yang negatif saya anggap wajar-wajar saja karena mungkin belum paham secara keseluruhan,” katanya.
Artikel Terkait
Sampah Menumpuk, Pemkot Bandung Siapkan TPA Darurat di Cicabe
Kota Bandung Darurat Sampah, Lahan Bekas TPA Cicabe Mulai Direaktivasi
Kota Bandung Darurat Sampah: Ketua RW Maklum, Warga Sekitar TPA Cicabe Takkan Menolak?
Kota Bandung Darurat Sampah: TPA Cicabe Sudah Diaktivasi, 600 Ton Sampah Bergeser
TPA Sarimukti Terancam Ditutup, Ini Kampanye yang Digelorakan Bank Sampah Induk (BSI) Kota Bandung