KABAR ALAM - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan tinjauan berkala terhadap tujuh cagar biosfer Indonesia di Auditorium Gedung B.J. Habibie, Jalan MH. Thamrin No. 8 Jakarta, 18 - 19 September 2024.
Ketujuh cagar biosfer yang sedang dalam peninjauan berkala BRIN itu adalah Leuser, Siberut, Bromo Tengger Semeru Arjuno, Tanjung Puting, Takabonerate, Lore Lindu, dan Komodo.
Tinjauan ini merupakan bagian dari proses penilaian UNESCO yang dilakukan setiap 10 tahun untuk memastikan pengelolaan cagar biosfer sesuai dengan standar keberlanjutan yang ditetapkan.
Baca Juga: HJKB ke-214: Libatkan 127.000 Warga, Beberesih Bandung Disebut sebagai Bentuk Rasa Syukur
Ketua Komite Nasional Man and Biosphere (MAB) Indonesia, Maman Turjaman menjelaskan, dalam pengembangan cagar biosfer, pendekatan berbasis lanskap sangat penting.
Pendekatan ini menekankan pentingnya memahami kawasan konservasi sebagai bagian dari ekosistem yang lebih luas, termasuk kawasan penyangga dan kawasan transisi yang melibatkan aktivitas manusia.
Dalam cagar biosfer, wilayah inti dapat dilindungi secara ketat. Sementara kawasan penyangga dan transisi diatur untuk memastikan penggunaan lahan yang berkelanjutan.
Baca Juga: HJKB Ke-214: Komunitas Tionghoa Peduli Ikut Beberesih Bandung
“Dengan tinjauan berkala, dapat diidentifikasi intervensi yang lebih tepat sasaran, mulai dari pengelolaan kehati, peningkatan nilai sosial dan ekonomi hingga penyelesaian konflik manusia-satwa liar,” ujar Maman dalam siaran pers BRIN, Selasa, 17 September 2024.
Maman menjelaskan, tinjauan berkala akan mengevaluasi berbagai aspek pengelolaan cagar biosfer, termasuk perlindungan sumber daya alam, tata kelola ekosistem, pembangunan ekonomi berkelanjutan, serta pelibatan masyarakat lokal.
Selain itu, tinjauan berkala juga untuk membantu memastikan program mitigasi perubahan iklim yang diterapkan sejalan dengan kebijakan pemerintah dan agenda global, seperti Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan Perjanjian Paris.
Baca Juga: Bambang Hendroyono: Masyarakat Berhak Dapatkan Lingkungan Baik dan Sehat
Pengelolaan Cagar Biosfer
Sementara itu, Deputi Kebijakan Pembangunan BRIN, Mego Pinandito menegaskan pentingnya kegiatan tinjauan berkala terhadap pengelolaan cagar biosfer.
“Konsinyasi finalisasi tinjauan berkala ini adalah langkah strategis untuk memastikan bahwa pengelolaan cagar biosfer di Indonesia dapat berjalan sesuai standar internasional," kata Mego.
Mego menjelaskan, cagar biosfer merupakan laboratorium alami yang sangat penting untuk konservasi keanekaragaman hayati dan model pembangunan berkelanjutan.
Artikel Terkait
Getting to Know the Taka Bonerate National Park
Pelajaran PEH Balai TN Komodo dari Pertemuan Pengelola Cagar Biosfer Dunia di Jerman
TN Komodo Tembus Rp 41 Miliar, Ini 10 Taman Nasional Penyumbang Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) Terbesar Tahun 2023
Peringatan Hari Harimau Sedunia di Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, Dari Lomba Mewarnai Hingga Face Painting
Energy of Celebes Mendorong Transformasi Pengelolaan Taman Nasional Lore Lindu