Sebut Drainase Sempit di Ujungberung, Pemkot Bandung Segerakan Audit Lingkungan Rawan Banjir

photo author
Endan Suhendra, Kabar Alam
- Rabu, 21 Februari 2024 | 08:00 WIB
Sungai di Kota Bandung (bandung.go.id)
Sungai di Kota Bandung (bandung.go.id)


KABAR ALAM - Pemerintah Kota Bandung (Pemkot Bandung) mengakui banjir masih menjadi salah satu tugas berat di musim hujan yang harus diselesaikan bersama lapisan masyarakat.

Dalam waktu dekat, Pemkot Bandung akan menyegerakan audit lingkungan rawan banjir yang terdapat di sejumlah titik.

"Sudah banyak upaya yang Pemkot Bandung lakukan. Ada kolam retensi, sodetan, rumah pompa, sumur resapan dan lainnya. Namun, banjir masih kerap terjadi di beberapa wilayah," kata Sekretaris Daerah Kota Bandung, Ema Sumarna, Senin 19 Februari 2024.

Baca Juga: HPSN 2024: Dipandu Presenter Kondang Valeria Daniel, Saksikan Dialog Kelola Sampah di Kanal Youtube Ditjen PSLB3 KLHK Hari Ini Pukul 08.00 WIB

Diungkapkannya, beberapa faktor penyebab banjir di Kota Bandung adalah drainase sempit atau dangkal, perilaku buang sampah sembarangan, sedimentasi sungai, dan kontrol yang belum ditegakkan secara masif.

"Drainase sempit dan dangkal itu terjadi di Ujungberung. Untuk menyelesaikannya memang harus ada kegiatan di luar program dan dilakukan secara rutin. Kita harus buka semua drainase di Kota Bandung. Bisa kerja sama CSR untuk kita selesaikan permasalahan ini," katanya.

Ema mengatakan, penguatan kontrol terhadap perizinan pembangunan pun harus ditingkatkan. Sebab, katanya, banyak bangunan yang justru kerap menambah persoalan banjir saat telah berdiri karena tidak memiliki solusi Amdal.

Baca Juga: HPSN 2024, Tragedi TPA Leuwigajah dan Ancaman Sampah Plastik yang Semakin Menghantui

Menurut Ema, perilaku menjaga kebersihan juga harus ditingkatkan. Ia mengusulkan agar setiap tiga bulan sekali program Bebersih Bandung rutin dijalankan.

"Dalam setahun berarti kita empat kali bersihkan trotoar dan cat median jalan. Ini pasti akan lebih terasa efeknya. Jangan setahun sekali saja saat Hari Jadi Kota Bandung," tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Bandung, Didi Ruswandi memaparkan, Kota Bandung memiliki 12 sub daerah aliran sungai. Di mana terdapat 14 sungai relatif tidak terjadi genangan.

Baca Juga: Regarding the 5 Distinct Flora of Gunung Leuser National Park

"Genangan terbesar di Cinambo dengan volume 24.000 meter kubik. Kalau ini diselesaikan dengan kolam retensi, kita butuh kolam dengan kedalaman 4 meter, di mana tiap kedalamannya bisa menampung 6.177 meter kubik," papar Didi.

Ia juga menyebutkan, daerah yang kerap terjadi banjir adalah Pasar Induk Gedebage dan persimpangan Jalan Soekarno Hatta.

Ada juga sebagian yang relatif besar di Cicadas, Rancabolang, Margahayu, Kawaluyaan, dan flyover Kiaracondong yang volume banjirnya mencapai sekitar 3.256 meter kubik.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Endan Suhendra

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X