KABAR ALAM - Para botani zaman dahulu menyebutnya sebagai “Mutiara Mahkota Jawa.” Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) merupakan kawasan yang kaya akan kehidupan flora tropika dan memiliki daya tarik tersendiri.
Menurut buku berjudul, “Sejarah 5 Taman Nasional Pertama” yang diterbitkan Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI, kekayaan flora di kawasan ini menjadikan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango memiliki keunikan tersendiri.
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango bahkan menjadi salah satu pilihan sebagai aspek pendidikan lingkungan setempat.
Baca Juga: Promo Spesial Agustus Teras Cibulakan Kuningan, Tukar Tiket Dewasa dengan Makanan Gratis
Sejak dahulu, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango sangat dikenal melalui kekayaan alamnya, khususnya flora tropika, membuat kawasan ini memiliki daya tarik yang tinggi.
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango merupakan sebuah kawasan lindung yang terbentang dari Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi, hingga Kabupaten Cianjur.
Namun tahukah kamu bahwa Taman Nasional Gunung Gede Pangrango merupakan salah satu kawasan lindung tertua di Indonesia?
Baca Juga: Batam Diprakirakan Berawan Pagi Hingga Sore Besok, Minggu 30 Juli 2023
Wilayah ini telah menjadi incaran banyak pengembara barat, terutama para botani berkat kekayaan alamnya. Kawasan ini bahkan memegang peranan penting dalam sejarah konservasi dan penelitian botani dunia.
Kawasan konservasi pertama di Indonesia lahir di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Pada tahun 1889, Cagar Alam Cibodas ditetapkan sebagai kawasan lindung pertama di Indonesia oleh pemerintah Hindia Belanda.
Beberapa tokoh ternama yang pernah menginjakan kakinya di kawasan ini, di antaranya adalah Alfred Russel Wallace, Sir Thomas Stafford Raffles, Docters van Leuwen, Dr. Sijfert Hendrik Koorders, Carl Ludwig Blume, dan masih banyak lagi.
Baca Juga: Awan Diprakirakan Berarak di Langit Jayapura Besok, Minggu 30 Juli 2023
Dari Cagar Alam Cibodas, wilayah konservasi pun semakin bertambah dan diperluas dari tahun ke tahun. Pada tahun 1919, perluasan pertama dilakukan. Area Cagar Alam Cibodas diperluas hingga ke wilayah di sekitar Air Terjun Cibeureum.
Masih di tahun yang sama, pemerintah kolonial pun memperluas wilayah cagar hingga ke lereng Gunung Pangrango di dekat Desa Caringin dengan nama terpisah, yaitu Cagar Alam Cimungkad.
Di tahun 1925, puncak Gunung Gede, Gunung Gumuruh, Gunung Pangrango, dan DAS Ciwalen Cibodas diklaim sebagai bagian dari Cagar Alam Cibodas.
Baca Juga: Matahari Diprakirakan Bersinar dari Balik Awan di Medan Besok, Minggu 30 Juli 2023