Hal ini dapat menjadi indikasi bahwa kota yang sehat berkorelasi dengan perubahan unsur ruang kota yang lebih baik. “Dengan pelajaran dari Covid-19 kita ingin melihat kembali bagaimana keterkaitan atau integrasi aspek kesehatan di dalam perencanaan tata ruang kota," katanya.
Baca Juga: Top 5 Hits 5 Oktober 2022, Buah Langka Indonesia Paling Banyak Dicari
Ia menyebutkan, ada dimensi-dimensi perencanaan yang kemudian mempengaruhi kesehatan yaitu berkaitan dengan standar perencanaan dan peraturan, kemudian planning codes, kerangka tata ruang yang diterapkan, serta proses perencanaan kota yang diarahkan untuk mendapatkan manfaat berganda.
Implementasi perencanaan kota sehat utamanya dikendalikan melalui regulasi, kebijakan, dan rencana aksi dari arah hulu.
Arahan yang berbentuk konsepsi ini kemudian baru akan berjalan jika ditindaklanjuti dengan pengadaan sarana prasarana yang menunjang perwujudan kota sehat, seperti ruang publik, fasilitas kesehatan, dan sebagainya.
Baca Juga: Perusahaan yang Bikin Sungai Cilamaran Memerah Dilaporkan ke Polres Karawang
Selain dari segi fasilitas, faktor penggerak kota sehat yang paling penting adalah masyarakat. Perubahan perilaku dan gaya hidup masyarakat kota harus senantiasa dibangun karena kedua elemen sebelumnya tidak akan berguna apabila tidak ada kesadaran dan perubahan dari masyarakatnya sendiri.***
Discaliamer
Tulisan ini sudah tayang di laman resmi ITB dengan judul Perencanaan Kota Sehat sebagai Upaya Aktualisasi SDGs di Indonesia
Artikel Terkait
Malam Ini, IA ITB, Ganesha Startup dan Future Lestari Sosialisasikan Program PLN Elevation
Didukung IA ITB, Apa Itu PLN Elevation Watts Up!?
IA ITB Jalin Kerja Sama dengan Garuda Indonesia, Begini Kesepahamannya!
IA ITB Agendakan Rakernas di Bangka Belitung Akhir Tahun Ini
ITB Dukung Transformasi Ekonomi melalui Hilirisasi dengan Kearifan Lokal