KABAR ALAM - Indonesia bersiap menghadapi dampak fenomena El Nino yang mengakibatkan musim kemarau lebih panjang dari biasanya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati juga mengingatkan stakeholder untuk segera melakukan langkah mitigasi di wilayahnya msing-masing.
Hal ini disampaikan oleh Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) A. Fachri Rajab pada acara Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) bertajuk 'Waspadai Dampak El Nino" yang digelar secara hybrid bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika, Senin (31/7).
"Di Indonesia, El Nino memberikan dampak pada kondisi lebih kering sehingga curah hujan berkurang, tutupan awan berkurang, dan suhu meningkat," kata Fachri dalam forum tersebut.
Baca Juga: Liberica Coffee Cipasung Kuningan, Bukan Kedai Kopi Biasa
BMKG telah melakukan pemantauan 10 hari terakhir Juli 2023, indeks El Nino-Southern Oscillation (ENSO) menunjukkan nilai sebesar +1.14 yang mengindikasikan bahwa El Nino terus menguat intensitasnya sejak awal Juli. BMKG juga memprediksi puncak dampak El Nino akan terjadi pada Agustus-September 2023 mendatang.
Sebanyak 63% dari zona musim telah memasuki musim kemarau, angka tersebut merupakan hasil monitoring hingga pertengahan Juli 2023,. BMKG memprediksi kemarau tahun ini akan lebih kering dari normalnya-dan juga lebih kering dari tiga tahun sebelumnya.
Beberapa daerah yang akan terdampak cukup kuat adalah sebagian besar wilayah Sumatera seperti Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Riau, Bengkulu, Lampung. Seluruh Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara diprediksi memiliki curah hujan paling rendah dan berpotensi mengalami musim kering yang ekstrem.
Baca Juga: Mokopi Cafe Ancaran, Cocok untuk Kongkow Sambil Menikmati Kesejukan Kuningan
Berdasarkan prakiraan curah hujan bulanan BMKG menunjukkan bahwa sebagai besar wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan bulanan kategori rendah bahkan sebagian lainnya akan mengalami kondisi tanpa hujan sama sekali hingga Oktober nanti.
"Jadi harus tetap waspada akan potensi terjadinya kekeringan," kata Fachri.
Seperti yang telah ditegaskan Kepala BMKG Dwikorita Karnawati sektor pertanian merupakan bidang yang sangat terdampak fenomena El Nino ini. Terutama tanaman pangan semusim yang sangat mengandalkan air. Rendahnya curah hujan tentunya akan mengakibatkan lahan pertanian kekeringan dan dikhawatirkan akan mengalami gagal panen.
Oleh karenanya, BMKG mendorong pemerintah daerah-khususnya bagi daerah yang diprediksi terdampak serius-untuk melakukan langkah mitigasi dan aksi kesiapsiagaan secepat mungkin.
Gerakan panen hujan, memasifkan gerakan hemat air, dan menyiapkan tempat cadangan air untuk puncak kemarau merupakan langkah yang bias ditempuh untuk mengantisipasi dampak musim kemarau ini.***