Kisah Tongkat Mbah Kuwu dan Fakta Mata Air Cipanten Majalengka yang Tak Pernah Mengering

- Kamis, 1 Desember 2022 | 11:23 WIB
Situ Cipanten Majalengka (www.instagram.com/aditia.putra.2)
Situ Cipanten Majalengka (www.instagram.com/aditia.putra.2)

KABAR ALAM - Keberadaan mata air Cipanten menjadikan Bumi Perkemahan Panten (Buper Panten) di Kecamatan Argalingga, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, sebagai destinasi wisata alam yang membuat betah dan mengesankan.

Apalagi, di balik kesejukan dan panorama alam di sekitarnya, sumber mata air Cipanten ini ternyata punya kisah menarik yang bisa menambah pengetahuan.

Seperti dikutip KABARALAM.com dari laman tngciremai.menlhk.go.id, konon mata air Cipanten itu dulunya merupakan petilasan Mbah Kuwu Cirebon Girang atau Pangeran Walangsungsang alias Cakrabuana.

Baca Juga: Ini Prestasi Neneng Kurniasih, Penyidik Perempuan KLHK yang Menyabet Penghargaan dari PBB

Menurut manuskrip Purwaka Caruban Nagari, Mbah Kuwu Cirebon Girang merupakan putra pertama pasangan Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran dari Permaisuri Nyi Mas Subanglarang.

Saat menginjak remaja, Walangsungsang keluar istana untuk mencari jati diri hingga akhirnya mantap memilih keyakinan yang tak sama dengan ayahanda beliau dengan memeluk agama Islam.

Pada 1445 Masehi, ia berhasil mendirikan pelabuhan laut Muara Jati, Cirebon atau Cerbon di ujung timur wilayah kerajaan Pajajaran.

Baca Juga: Berlibur di Sembalun Lawang, Lombok, Desa Wisata dengan Pesona Alam yang Menghipnotis Mata

Selain berniaga, Mbah Kuwu giat melakukan syiar Islam ke seantero pantai utara Jawa (Pantura) seperti Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan.

Halaman:

Editor: Endan Suhendra

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kisah Pabrik Terasi di Balik Pesona Side Land Kuningan

Minggu, 22 Januari 2023 | 15:47 WIB
X