KABAR ALAM - Suasana sunyi, lembab dan udara sejuk langsung dirasakan pengunjung begitu memasuki kawasan Situ Sangiang, sebuah danau alami di Desa Sangiang, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Majalengka.
Ketika aura mistis mulai terpikirkan dan menjalar ke dalam raga, tak jarang para pengunjung merasakan bulu kuduknya bergidik setibanya di tepian Situ Sangiang.
Keberadaan makam Sunan Parung yang dipercaya sebagai raja ternama dari Kerajaan Talaga Manggung semakin melengkapi aura mistis Situ Sangiang.
Baca Juga: Batu Lawang, Destinasi Wisata Alam Eksotis dan Instagramable di Desa Cupang Cirebon
Dikutip KABARALAM.com dari laman ksdae.menlhk.go.id, menurut legenda, Situ Sangiang diyakini sebagai tempat "ngahiang" (moksa) Sunan Talaga Manggung dan keratonnya ketika dikhianati menantunya, Patih Palembang Gunung pada abad ke 15. Sejak itu, tempat ini raib dan baru ditemukan kembali pada masa penjajahan Belanda.
Riak air mengalir, rimbun pepohonan tambun dan aneka satwa liar seperti ular, elang dan primata masih banyak berkeliaran di sekitarnya, menciptakan hutan hujan tropis yang kaya akan potensi sumber daya alam. Tak heran bila saat ini Situ Sangiang menjadi primadona wisata Majalengka.
Masyarakat setempat percaya, keberadaan pohon nunuk dan ikan di Situ Sangiang harus terus dijaga. Pohon Nunuk dipercaya sebagai gerbang kerajaan Talaga Manggung. Sedangkan Ikan merupakan jelmaan prajurit kerajaan.
Baca Juga: Top 5 Hits 9 November 2022, Pesona Desa Wisata Gegesik Kulon Cirebon Mencuri Perhatian
Bila ada ikan yang mati, maka harus dikuburkan layaknya manusia. Pamali ini tidak boleh dilanggar, karena akan mengakibatkan malapetaka.
Peziarah ramai mengunjungi makam Sunan Parung pada 1 Syura dan waktu tertentu lainnya. Mereka melakukan serangkaian ritual yang diakhiri dengan memberi makan ikan dan mandi di bibir situ. Setiap rombongan peziarah biasanya dipandu oleh seorang kuncen.
Oleh masyarakat setempat, Situ Sangiang juga menjadi alat prakiraan musim. Permukaan airnya sering dijadikan tanda datangnya musim kemarau dan penghujan. Menjelang kemarau, ketinggian air akan bertambah hingga memenuhi situ. Sementara jelang penghujan tiba, permukaaan air justru surut.
Baca Juga: Lima Hari, Damkar Depok Evakuasi 5 Ekor Ular dan Seekor Biawak dari Pemukiman Warga
Walaupun di luar nalar, mistis dan kearifan lokal masyarakat setempat turut melestarikan Situ Sangiang sehingga terhindar dari tangan-tangan jahil.***
Artikel Terkait
Menikmati Amparan Hutan Pinus Gunung Ciwaru dari Ketinggian Majalengka
Desa Wisata Bantaragung di Majalengka Bikin Betah Para Pengunjung
Situ Sangiang, Destinasi Wisata Alam di Majalengka yang Sarat Nilai-nilai Kearifan Lokal
Terasering Panyaweuyan, Destinasi Wisata Alam Andalan Majalengka yang Tak Kalah Indah dari Ubud
Menikmati Kesejukan Argapura Majalengka di Curug Muara Jaya