Batu Angus, Geowisata Unggulan Nan Eksotik di Ternate, Maluku Utara

photo author
Yudi Noorahman, Kabar Alam
- Jumat, 2 September 2022 | 21:02 WIB
Lanskap geowisata Batu Angus yang eksotik di Ternate, Maluku Utara. (Dok. Kemenparekraf)
Lanskap geowisata Batu Angus yang eksotik di Ternate, Maluku Utara. (Dok. Kemenparekraf)


KABAR ALAM - Ternate, Maluku Utara memiliki objek geowisata Batu Angus yang indah dan eksotik.   

Batu Angus dikenal unik dan menawan. Tak heran geowisata Batu Angus menjadi destinasi wisata unggulan, baik bagi wisatawan dalam maupun luar negeri.

Bukan sekadar menikmati hamparan bebatuan yang indah, pengunjung Batu Angus juga disuguhi pemandangan alam luar biasa dan semilir angin yang menyejukkan.

Dikutip KABAR ALAM dari laman resmi Kemenparekraf, sesuai dengan namanya, objek wisata Batu Angus merupakan hamparan batu yang terlihat hangus terbakar.

Wisatawan yang berkunjung akan disuguhi hamparan batuan yang hangus mirip stalaktit hitam membentang dari kaki Gunung Gamalama hingga ke pantai.

Baca Juga: Mau ke Dieng Culture Festival 2022, Simak Dulu Rekayasa Arus Lalu Lintas yang Diberlakukan

Bebatuan di tempat terebut bukanlah batu biasa. Batu Angus di Ternate memiliki kepadatan tinggi, bertekstur kasar, dan memiliki bentuk yang tidak beraturan.

Bahkan, banyak yang bilang bebatuan di geowisata Batu Angus mirip dengan batuan penyusun candi di Pulau Jawa.

Berhasil menarik perhatian wisatawan dan dinilai memiliki potensi yang luar biasa, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno mendukung pengembangan geowisata Batu Angus menjadi geopark nasional.

Dalam upaya menjadikan geowisata Batu Angus Ternate sebagai geopark tentu harus mengedepankan konservasi dan edukasi.

Baca Juga: Pesona Danau Sentarum Memikat Wisatawan

Selain itu, geowisata Batu Angus juga harus mengedepankan prinsip ekonomi dan budaya, termasuk juga bagi flora dan fauna endemik di dalamnya.

Wilayah yang diusulkan menjadi geopark juga harus memenuhi syarat: menjadi sarana pengenalan bumi, sebagai kawasan lindung warisan bumi, tempat pengembangan geowisata, sebagai sarana kerja sama yang efektif dan efisien bagi masyarakat lokal, serta menjadi tempat implementasi aneka ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dengan begitu, Batu Angus diharapkan menjadi geopark nasional sekaligus dapat melestarikan lingkungan, konservasi, edukasi, dan menyejahterakan masyarakat setempat.

Baca Juga: Berwisata ke Kawasan Konservasi, Ini Etika yang Mesti Diperhatikan

Terbentuknya Batu Angus berasal dari tumpukan bebatuan dari lahar beku yang mengarah ke laut akibat letusan Gunung Gamalama pada 1673.

Memiliki proses yang cukup panjang, fenomena alam lelehan lava akibat letusan Gunung Gamalama sudah terjadi sejak 1737, yang kemudian membentuk Batu Angus di Kubala.

Mamasuki 1763 terbentuk Batu Angus di Tubo Turaga, lalu pada 1907 membentuk Batu Angus di antara belakang Bandara Sultan Babullah hingga Tarau, Kecamatan Ternate Utara.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yudi Noorahman

Sumber: kemenparekraf.go.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Healing Nyaman di Tangkal Pinus Lembang

Selasa, 14 April 2026 | 13:45 WIB
X